Opini
Berobat ke Luar Negeri
SEMULA saya menduga, orang-orang yang berobat ke luar negeri hanyalah orang-orang bergaya suma karena banyak duitnya. Tapi, cerita seorang teman
Oleh: Dr.dr.Pribakti B, SpOG(K)
Dokter di RSUD Ulin Banjarmasin
SEMULA saya menduga, orang-orang yang berobat ke luar negeri hanyalah orang-orang bergaya suma karena banyak duitnya. Tapi, cerita seorang teman menggeser pemahaman saya akan hal itu. Ia memang orang berduit tapi bukan orang bergaya. Meskipun banyak duitnya, ia jenis manusia bersahaja. Terlepas dari punya duit atau tidak,ia orang yang sakit.
Ada kanker ganas di tubuhnya, dan ia ingin sembuh. Keinginan sembuh ini, pasti mendahului keinginannya untuk bergaya. Maka, datanglah ia ke seorang dokter di kotanya. Dokter yang menurutnya terbaik. Mengingat dokter ini adalah dokter yang terbaik maka ia merasa tak perlu menyentuh seluruh hasil laboratorium yang dibawa pasien. Ia mengaku telah ahli. Hanya dengan sekali lirik, ia mengaku telah paham. Dengan tingkat kepahaman itulah dokter merasa bisa menyembuhkan pasien sambil merendahkannya. Merendahkan orang yang membayarnya. Ini luar biasa!
Dokter ini keliru. Ternyata sakit kanker betapapun ganasnya tak ada apa-apanya dibanding dengan sakit hati. Akhirnya, seorang teman ini memutuskan selamat tinggal kepada dokter dengan segumpal kemarahan. Kemarahan inilah yang menuntut dia mencari teman-teman pengidap kemarahan yang sama. Segeralah cerita yang sama dari dokter yang sama pula, bermunculan dari geng orang sakit yang sakit hati. Betapa dokter itu amat pawai menyakiti hati pasiennya.
Maka, rombongan sakit hati inilah yang sekarang memilih Negeri Singa sebagai rumah sakit mereka. Di sana mereka melihat sebuah proses penyembuhan yang menyembuhkan. Bukan kesembuhan yang menyisakan kemarahan.
Baca juga: Rumah Subsidi Masih Realistis untuk MBR?
Baca juga: Batalnya Keberangkatan Haji Furoda Tahun Ini, Travel Alami Kerugian Ini
”Dokternya masih mau meneliti hasil laboratorium saya satu persatu, kata teman ini. Ia mengaku , baru saja masuk ruang pemeriksaan, energi kesembuhan telah didapatkan dari seluruh keramahan yang merebak di sekujur ruangan. Singkat kata, dokter itu tidak cuma mengobati, tetapi juga menghibur dan ini dia: melayani! Walau kita tahu, Semua jenis keramahan ini harus dibayar. Jadi sebetulnya tidak ada yang aneh dari semuah kerammahan bayaran. Seluruh staf rumah sakit. Mulai dari dokter hingga cleaning service, memiliki kerahmahan mengagumkan. Tapi, orang-orang ini pasti akan segera menendang kita keluar ruangan jika kita ketahuan menginap tidak bayar. Jadi, keramahan adalah soal yang sederhana jika cocok bayarannya.
Saya sendiri menjamin, saya akan menjadi amat ramah kepada siapa saja jika tahu bahwa layanan saya dibayar tinggi. Tidak cuma ramah, saya malah mau saja bersikap mulia. Tapi, jika bayaran itu cuma ucapan terima kasih plus plakat dan piagam, saya juga siap menjadi orang yang paling berungut-sungut di dunia.
Jadi keramahan dokter-dokter di Negeri Singa itu adalah soal yang standar saja. Tidak ada yang aneh dan istimewa. Yang aneh ya kita ini, sudah dibayar malah menghina pembayarnya. Dokter jenis itu sanggup mengobati kanker, tetapi untuk apa jika ia meninggalkan sakit yang jauh lebih berbahaya: sakit hati! Dokter semacam ini pasti sedang terjangkit penyakit keracunan logika. Sudah bersikap angkuh, minta dibayar pula. Jangan-jangan sudah angkuh minta dibayar, masih gagal menyembuhkan. Sebetulnya angkuh tidak mengapa asal gratis. Anggap aja impas. Ini tidak , sudah sakit, disakiti, diminta membayar pula . Luar biasa!
Orang seperti inilah yang membantu memiskinkan negara karena merangsang orang orang untuk menghamburkan devisa, menyebabkan capital flight! Jadi, di tengah kemiskinan negara seperti sekarang ini, para pembuat capital flight itu boleh disejajarkan dengan penjahat negara. Semula saya menyangka , orang-orang yang berobat ke luaar negeri adalah selalu orang yang angkuh. Tapi ternyata, sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang dilukai di negerinya sendiri.
Dalam pandangan saya, hal ini terjadi salah satunya karena sikap dokter di Indonesia yang belum menempatkan kepentingan pasien sebagai prioritas utama. Kemampuan berkomunikasi serta kesediaan memberi penjelasan kepada pasien atau keluarganya masih amat lemah. Juga keengganan untuk dikontrol pihak lain, termasuk teman sendiri.
Selain itu, sikap pengusaha rumah sakit di Indonesia yang cenderung berorientasi pada pengembalian modal dan keuntungan. Sikap semacam itu sering ikut mendorong terjadinya pelayanan yang tidak efisien, efektif, tepat waktu dan aman. Hubungan dengan dokter yang bernuansa saling cinta tetapi juga saling curiga membuat sulit melakukan kajian objektif terhadap mutu layanan di rumah sakit. Tidak ada studi tentang berapa besar medical error, rasionalitas terapi, dan kejadian menyimpang yang dapat dijadikan tonggak untuk perbaikan mutu pada tahun berikutnya. Jika semua itu tidak dibenahi, pendirian rumah sakit megah (termasuk yang dibangun Kemenkes) tidak menjamin bahwa layanan bermutu. Orang Indonesia masih akan memilih berobat ke negara lain dan orang luar tidak tertarik untuk berobat di Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Drdr-Pribakti-B-SpOGK-Dokter-di-RSUD-Ulin-Banjarmasin2.jpg)