Fikrah

Racun Hati

Para ulama banyak yang membahas tentang racun hati, yang jika disederhanakan ada empat macam racun

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID- Seorang ulama besar yang bernama Abdullah bin Mubarak menulis sebuah syair yang artinya, “Kulihat racun-racun itu mematikan hati, membiasakannya mengakibatkan kehinaan. Meninggalkannya adalah kehidupan bagi hati, selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi anda”.

Syair ini menunjukkan betapa berbahanya racun hati yang bisa menjadikan seseorang jatuh dalam kehinaan dan jauh dari kemuliaan.  

Disebutkan bahwa para ulama banyak yang membahas tentang racun hati, yang jika disederhanakan ada empat macam racun. Pertama, yaitu banyak bicara. Bicara adalah sesuatu yang mubah akan tetapi kalau banyak bicara bisa mematikan hati.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad,  Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Keimanan seorang hamba tidak akan lurus sebelum lurus hatinya, dan hatinya tidak akan lurus sebelum lurus lisannya”.

Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya, “Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke neraka adalah dua lubang yaitu mulut dan kemaluan”.  

Ibnu Hibban meriwayatkan perkataan Umar bin Khattab yang mengingatkan tentang pentingnya untuk menjaga pembicaraan.

“Barangsiapa banyak bicaranya banyak kekeliruannya. Barang siapa banyak kekeliruannya banyak dosanya. Dan barangsiapa banyak dosanya maka neraka adalah tempat yang pantas baginya”.  

Banyak bicara di sini adalah pembicaraan yang tidak berguna atau pembicaraan yang tidak mendatangkan manfaat untuk kebahagian didunia dan diakhirat.

Oleh karena itu ciri-ciri orang yang beriman itu adalah berbicara baik kalau tidak bisa maka lebih baik diam.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. (HR. Bukhari).

Racun kedua adalah banyak makan. Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan mengakibatkan kebalikannya dapat mengeraskan hati, melemahkan daya pikir, menjadi orang  yang malas, banyak minumnya, kemudian banyak tidurnya, sehingga mengakibatkan sedikit amal salehnya.  Barang siapa yang sedikit amal salehnya akan menjadi orang yang merugi di dunia dan di akhirat. 

Masalah makan ini Rasulullah SAW mengingatkan menjaga perut sebagaimana sabdanya yang artinya, “Tidaklah ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk dari pada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya hendaknya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya”. (HR. Ahmad)

Berlebihan dalam makan mengakibatkan banyak hal buruk. Berapa banyak kemaksiatan yang bermula dari keadaan kenyang dan berlebihan dalam makan.

Beruntung yang bisa menjaga keburukan perutnya maka ia telah menjaga diri dari keburukan yang besar. Bukankah Rasulullah SAW sendiri dan juga para sahabatnya sering dalam keadaan lapar, bahkan Ibnu Umar berusaha untuk menyerupai beliau, walaupun beliau mampu untuk makan apa saja. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved