Jendela

Berebut Perhatian

sekarang informasi berhamburan dan datang bertubi-tubi, maka perhatian adalah barang langka yang diperebutkan

Tayang:
Editor: Hari Widodo
Foto Ist
Mujiburrahman Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: Mujiburrahman Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- MUNGKIN Anda termasuk orang yang khawatir dengan berita-berita berikut ini. Di level internasional, pemerintah kita bergabung dengan Board of Peace bentukan Donald Trump. Di tataran nasional, Thomas Djiwandono terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan tiga pejabat Otoritas Jasa Keuangan mengundurkan diri. Politisi Golkar, Adies Kadir, telah disetuji DPR untuk menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi. Di tingkat lokal, ikan-ikan dalam keramba jaring di Sungai Barito mati massal dan mengakibatkan kerugian hingga Rp 3,28 M.

Sebagian kita mungkin terpicu rasa ingin tahu, apa dan mengapa semua itu terjadi. Sebagian lagi ada yang berkomentar di media sosial atau bahkan menulis artikel opini di media massa. Sebagian lagi tak mau tahu dan tak peduli, karena merasa isu-isu itu tak berhubungan langsung dengan mereka, atau menyadari bahwa mereka takkan bisa berbuat apa-apa. Sebagian lagi justru sama sekali tak tersentuh. Meskipun mereka menggunakan ponsel dan media sosial, sistem algoritma menggiring mereka kepada jenis informasi tertentu yang paling sering mereka akses.

Secara umum, ponsel memberi peluang kepada kita untuk selalu terhubung ke dunia luar, entah yang sengaja kita hubungi, atau yang secara sistemik terhubung ke kita melalui media sosial. Internet telah membuat kita hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia maya dan dunia nyata. Yang maya adalah dunia citra-citra berupa tulisan, foto, suara dan video. Dunia nyata adalah dunia konkret yang kita alami secara langsung melalui indera kita, darah dan daging kita. Dua dunia ini kadang saling menguatkan, dan kadang saling memisahkan. Namun keduanya selalu hadir dalam kesadaran kita.

Filsuf Barat, Edmund Husserl, berteori bahwa kesadaran itu bersifat intensional, yakni terarah kepada sesuatu. Kita bisa saja duduk di tepi jalan, tetapi tak “melihat” orang-orang yang lewat di jalan itu karena kita tengah melamun. Saat melamun, kesadaran kita terarah ke masalah lain sehingga objek yang di depan kita menjadi terlupakan. Hal ini juga memberi pelajaran kepada kita bahwa orang tak bisa memerhatikan banyak masalah atau objek secara bersamaan. Jika perhatian kita terpecah, maka kita takkan benar-benar bisa memahami apalagi mengatasi masalah-masalah itu dengan baik.

Kesadaran yang terarah itu kita sebut perhatian. Karena sekarang informasi berhamburan dan datang bertubi-tubi, maka perhatian adalah barang langka yang diperebutkan. Baik media massa arus utama ataupun pembuat konten profesional, semua berusaha mencuri perhatian orang. Karena itu, kadang kita temukan informasi yang provokatif, konyol bahkan palsu. Pertimbangan moral pun diabaikan. Bagi sebagian mereka, yang penting bisa menarik perhatian warganet. Semakin banyak perhatian, berarti semakin terkenal dan semakin banyak dapat duit. Inilah yang disebut “ekonomi perhatian”.

Jadi, perhatian itu sangat penting, dan fondasi perhatian adalah kesadaran. Kesadaran adalah hakikat keberadaan diri kita sebagai manusia. Secara empiris, kita tak bisa melacak dengan pasti, dari mana kesadaran itu berasal dan kemana kelak dia pergi. Yang bisa menjelaskan ini adalah agama. Agama mengajarkan bahwa kesadaran adalah bukti adanya wujud ruhani dalam diri kita. Tuhan menciptakan kita terdiri dari tubuh yang kasat mata dan ruh yang tak terlihat tetapi dapat dirasa. Saat kita wafat, ruh terpisah dari tubuh. Ruh tak pernah mati, dan di dalamnya terkandung kesadaran kita.

Dalam konteks ini, budaya digital yang memperebutkan perhatian manusia dapat membawa kita kepada dua sikap yang bertentangan. Pertama, kita terpukau dengan aneka godaan media itu sehingga perhatian kita tercurahkan sepenuhnya ke sana. Karena hampir setiap saat kita dapat terhubung dengan rupa-rupa informasi dunia maya, maka kita seolah tak ada waktu lagi untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya lebih penting dan bermakna bagi hidup kita. Waktu kita terbuang habis, tersedot oleh pasar informasi. Akibatnya, kita mengalami kebangkrutan kesadaran.

Kedua, sebaliknya, justru karena budaya digital adalah budaya merebut perhatian, dan perhatian berasal dari kesadaran, maka kita semakin terdorong untuk menjaga kesadaran kita. Sesuatu yang diperebutkan pastilah bernilai tinggi. Mungkin dalam benak banyak orang, perhatian diperebutkan semata-mata demi uang dan popularitas. Padahal, perhatian itu mencakup segalanya: ekonomi, sosial, budaya, dan politik, bahkan hakikat kemanusiaan kita. Bukankah kesadaran sebagai fondasi perhatian adalah inti yang membedakan manusia dari robot dan kecerdasan buatan?

Sebagai manusia, kita tentu bebas memilih, peduli pada isu-isu publik ataukah apatis. Kita bisa memilih, menghabiskan waktu berselancar di internet tanpa tujuan yang jelas atau melakukan hal-hal yang bermanfaat nyata bagi hidup kita. Kita bebas menentukan, memusatkan perhatian pada hal-hal utama yang menjadi amanah dan tanggungjawab kita masing-masing, ataukah sibuk mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain. Kita bisa menghabiskan waktu seluruhnya untuk mencari uang belaka, atau ada pula waktu untuk mengisi hati dengan ilmu, zikir, doa, dan ibadah.

Orang bijak mengatakan, kualitas hidup kita, bahagia-derita kita, terutama ditentukan oleh pikiran kita, dan pikiran kita dibentuk oleh apa yang menjadi perhatian kita. Karena itu, apa saja yang menjadi pilihan kita untuk diperhatikan akan menentukan seperti apa hidup kita. “Kita” di sini mencakup orang per orang, masyarakat dan umat manusia. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved