Tajuk

Menjaga Keamanan Pangan Masyarakat

keracunan massal kembali terjadi di Kalimantan Selatan. Kali ini terjadi di Desa Baruh Tabing, Kecamatan Banjang, Kabupaten HSU

Tayang:
Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/HO-Relawan
KERACUNAN MASSAL- (Ilustrasi) Proses penangan korban keracunan massal di Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). 

BANJARMASINPOST.CO.ID- KASUS keracunan massal kembali terjadi di Kalimantan Selatan. Kali ini terjadi di Desa Baruh Tabing, Kecamatan Banjang, Hulu Sungai Utara (HSU) pada Minggu (2/2).

Sebanyak 128 warga sakit usai menghadiri resepsi pernikahan dan harus dilarikan ke rumah sakit Pembalah batung Amuntai. Ada 120 orang akhirnya boleh pulang, sisanya harus rawat inap.

Puluhan orang dirujuk ke fasilitas kesehatan. Mereka terpaksa mempertaruhkan nyawa di rumah sakit akibat kelalaian manusia.

Ini jadi alarm publik, bahwa keamanan pangan masyarakat bukan hal sepele. Sebab kalau sudah 100–150 orang sakit bersamaan, itu bisa disebut sebagai kegagalan keamanan makanan. Sumbernya jelas ada di rantai pengolahan makanan.

Namun bisa jadi ini pola klasik. Masalah utamanya biasanya bukan racun yang disengaja, namun adanya kelalaian saat pengolahannya. Tidak higienis, atau salah dalam penyiapan makanan atau minuman. Disimpan berjam-jam di ruang tanpa pendingin, serta tak ada standar sanitasi.

Seperti kasus keracunan massal di HSU. Diduga penyebabnya dari menu es buah.

Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Tabalong Taufiqqurrahman mengatakan dari investigasi, es batu yang digunakan tanpa dimasak yaitu menggunakan air mentah.

Proses pembuatan bahan minuman juga sudah ada yang dilakukan pada malam hari sekitar pukul 23.00 Wita, dan mulai dicampur dengan bahan lainnya pada pukul 04.00 Wita keesokan harinya.

Namun melihat gejala keracunan muncul cepat, kemungkinan adanya toxin dari bahan kimia atau bakteri bisa saja terjadi. Untuk memastikan hal itu, sampel pun dikirim ke Jakarta.

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas keamanan pangan saat hajatan? Hal ini memang masih dilema. Sebab, selama ini memang tidak ada pengawasan khusus untuk menu acara nonkomersial.

Namun bukan berarti harus pasrah. Perlu edukasi keamanan pangan sampai tingkat laporan masyarakat paling bawah. Dari kota sampai ke pelosok desa. Mulai dari higienis pengolahan dan kesegaran bahan, harus jadi prioritas.

Keamanan pangan adalah hak semua orang, bukan pilihan. Pemerintah daerah perlu memperkuat edukasi keamanan pangan hingga tingkat desa dengan melibatkan kader kesehatan dan aparat desa.

BPOM dan Dinkes Kalsel tidak hanya hadir saat kejadian tapi seharusnya juga aktif melakukan pencegahan. Pencegahan jauh lebih murah daripada penanganan.

Bagi masyarakat sebagai tuan rumah untuk menjamu tamu perlu diingat air dan es adalah sumber risiko tertinggi.

Air harus dimasak hingga mendidih, sedangkan es batu harus dari air matang serta kebersihan alat dan wadah sama pentingnya.

Terakhir kita juga harus mendesak agar hasil uji laboratorium diumumkan terbuka. Harapan agar insiden ini jadi pemantik kesadaran keamanan pangan. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved