Tajuk

Menyelamatkan Kota Lama

Kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe atau yang lebih dikenal dengan nama Kota Lama di Jalan Hasanuddin HM, Banjarmasin, kini makin sepi

Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman
KOTA LAMA- Kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe atau Kota Lama di Jalan Hasanuddin HM Banjarmasin tidak lagi seramai beberapa tahun lalu, Senin (16/3/2026). 

BANJARMASINPOST.CO.ID- Kawasan Bandarmasih Tempo Doeloe atau yang lebih dikenal dengan nama Kota Lama di Jalan Hasanuddin HM, Banjarmasin, kini makin sepi. 

Destinasi yang sempat menjadi primadona pada medio 2022 hingga 2023 itu mulai menunjukkan tanda-tanda kelesuan dengan deretan meja kursi yang mulai lengang dari pengunjung.

Sejumlah ruko yang dulu menjadi pusat keramaian kini justru tertutup rapat, bahkan beberapa di antaranya sudah dipasangi spanduk “Dijual” atau “Disewakan”, menandakan menyerahnya pemilik modal.

Padahal Kota Lama adalah simbol keberhasilan revitalisasi kawasan bersejarah di Kota Seribu Sungai. Konsep perpaduan antara nuansa vintage bangunan tua dengan modernitas kafe dan kuliner sempat menjadi magnet luar biasa bagi masyarakat, khususnya kaum muda.

Salah satu faktor utama yang terungkap adalah biaya operasional yang mencekik, terutama tarif sewa ruko yang meroket saat kawasan ini sedang berada di puncak popularitas beberapa tahun lalu.

Kondisi ini diperparah dengan munculnya kompetitor baru yang tak kalah menarik. Kawasan kuliner di Jalan Bank Rakyat dan Jalan Brigjen Katamso, yang kini dijuluki sebagai “Blok M-nya Banjarmasin”, mulai mengambil alih peran sebagai pusat tongkrongan hit.

Seperti kata Pengamat ekonomi dari Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Martapura, Lisda Aisyah, psikologi massa, terutama generasi muda, memang sangat rentan terhadap fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

Mereka cenderung berpindah-pindah mengikuti apa yang sedang viral di media sosial, dan tampaknya Kota Lama mulai kehilangan daya pikat “kebaruan” tersebut di mata mereka.

Karakter Generasi Z yang menjadi target pasar utama memang memiliki kecenderungan cepat bosan. Tanpa ada inovasi atau sajian konsep yang segar secara berkala, sebuah tempat nongkrong akan sangat mudah dilupakan ketika ada alternatif lain yang dianggap lebih “instagrammable”.

Meski demikian, kita tidak boleh membiarkan Kota Lama mati perlahan dan hanya menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Revitalisasi fisik yang sudah dilakukan dengan biaya tidak sedikit jangan sampai berakhir sia-sia karena manajemen kawasan yang stagnan.

Di sinilah peran Pemerintah Kota Banjarmasin sangat dinantikan untuk hadir sebagai penengah. Langkah Wali Kota Banjarmasin yang mulai melirik penataan kawasan “Blok M” baru harus dibarengi dengan strategi penyelamatan untuk kawasan Kota Lama.

Di sisi lain, ini peringatan bagi pemerintah kota. Mati surinya Kota Lama harus jadi pelajaran di kemudian hari, agar kawasan “Blok M” dan tempat-tempat baru lainnya tak keburu layu sebelum berkembang.

Sudah banyak contoh kawasan kuliner di Banjarmasin yang dulu dibangun dan menyerap banyak anggaran, kini mati. Sebut saja kawasan kuliner di Kawasan Wisata Kuliner (KWK) Gang Pengkor di Kayutangi, Kawasan wisata Kampung Ketupat di Kelurahan Sungai Baru yang kini terancam dibongkar dan lainnya. Kota Lama belum mati, tapi sekarat. Masih bisa diselamatkan, kalau mau. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved