Kolom

Oligarki, Reformasi dan Resentralisasi

Sebagian orang menilai gerakan mahasiswa kali ini sebagai langkah menuju Reformasi Jilid 2. Kita tentu ingat bahwa pada Mei 1998

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- MAHASISWA kembali berdemonstrasi di Jakarta pada Jumat, 12 Juni 2026 lalu. Mereka mengajukan lima tuntutan kepada pemerintah, yaitu (1) menghentikan pemborosan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN); (2) menurunkan harga kebutuhan pokok dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM); (3) Menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP); (4) menghentikan militerisme di ranah sipil; (5) mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak.

Sebagian orang menilai gerakan mahasiswa kali ini sebagai langkah menuju Reformasi Jilid 2. Kita tentu ingat bahwa pada Mei 1998, rezim Orde Baru Soeharto jatuh dan digantikan oleh periode politik baru yang disebut ‘Reformasi’.

Pada 1997, dalam sebuah ceramahnya, M Amien Rais mengatakan bahwa saat itu dia tidak menginginkan ‘revolusi’ karena khawatir akan menimbulkan gejolak yang terlalu besar. Yang dia inginkan adalah pembaruan sistem politik atau reformasi saja. Mungkin, para pengusung Reformasi Jilid 2 saat ini juga berpikir demikian.

Namun, menurut cendekiawan asal Indonesia dan guru besar di Universitas Melbourne, Australia, Vedi R Hadiz, saat ini era Reformasi sebenarnya sudah berakhir karena Indonesia tengah bergeser ke era baru yang belum ada namanya.

Sebagai orang awam tetapi mempunyai minat intelektual terhadap kajian-kajian politik, saya sungguh terpukau dengan uraian-uraian yang disampaikan Vedi, baik dalam karya-karya tulisnya ataupun wawancaranya, khususnya di siniar PolgovTalks, 17 Oktober 2025, dan yang terbaru di Qou Vadis Indonesia, 9 Juni 2026.

Sebagai pakar ilmu politik, Vedi melihat dinamika Indonesia dari sudut pandang ekonomi politik, yakni melihat politik dari sisi pertalian antara kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Dalam kerangka ini ia melihat, sejak Orde Baru politik Indonesia senantiasa dikendalikan oleh oligarki.

Baginya, oligarki bukan kekuasaan orang-orang kaya semata, melainkan persekutuan tiga kekuatan, yaitu pengusaha kaya, politisi dan birokrasi. Mereka bersekutu untuk menguasai lembaga-lembaga dan sumber-sumber kekayaan publik untuk mengakumulasi kekayaan yang bersifat privat.

Menurut Vedi, pada masa Soeharto berkuasa, persekutuan pengusaha kaya, politisi dan birokrasi itu dikelola secara terpusat, dibawah kendali sang presiden. Ketika Soeharto jatuh, para pengusaha kaya itu sempat kelimpungan, tetapi lambat laun, mereka akhirnya kembali berkuasa melalui lembaga-lembaga demokrasi yang didirikan di masa Reformasi seperti partai politik, media massa, hingga ormas-ormas dan birokrasi.

Selain itu, oligarki di masa Reformasi mengalami desentralisasi berkat adanya otonomi daerah yang membuka aliansi-aliansi ekonomi politik di tingkat lokal.

Dengan demikian, bagi Vedi, era Reformasi adalah evolusi alias perubahan bentuk belaka dari kuasa oligarki di masa Orde Baru. Namun, dia tidak menolak fakta bahwa di masa Reformasi rakyat lebih banyak menikmati kebebasan berpendapat dan berserikat.

Media semakin terbuka, lebih-lebih setelah media sosial menjamur, dan ormas-ormas bermunculan. Rakyat juga menyaksikan kiprah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berani menangkap menteri, anggota DPR, hakim, jaksa, gubernur dan bupati. Kiprah militer dalam birokrasi, politik, dan bisnis juga dibatasi.

Namun, bagi Vedi, semua itu hanyalah gejala-gejala di permukaan. Di masa Jokowi, kebebasan berpendapat dan berserikat itu mulai dibatasi, entah melalui undang undang ataupun tekanan aparat. KPK juga mulai kurang independen dan cenderung menjadi alat bagi pihak berkuasa untuk menjatuhkan lawan politik.

Selain itu, UU Cipta Kerja telah memperlemah posisi buruh dan memperkuat para pengusaha. Untuk menopang dirinya yang tidak berasal dari partai, selain menggandeng polisi, Jokowi juga mulai membuka pintu bagi militer untuk masuk ke ranah sipil.

Menurut Vedi, Prabowo melanjutkan pembalikan di atas. Jika Reformasi ditandai oleh desentralisasi, maka Prabowo melakukan resentralisasi, pemusatan ulang kendali ekonomi-politik. Dia ingin agar aliansi penguasa-politisi-birokrasi itu lebih terkendali di pusat.

Pendirian Danantara, berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti food estate, perkebunan sawit, MBG dan KDMP, adalah langkah-langkah sentralisasi itu. Untuk memperlancar upayanya, sebagai tokoh yang berlatarbelakang militer, Prabowo semakin banyak melibatkan militer dalam berbagai urusan sipil.

Menyimak narasi Vedi, saya merasa ngeri-ngeri sedap. Misalnya, Vedi mengatakan bahwa partai-partai politik saat ini tak lebih dari persekongkolan sementara antara kepentingan-kepentingan yang dominan, yang nyaris tanpa ideologi.

Jika pun muncul konflik yang berwarna ideologis di tingkat massa, maka itu sekadar gejala permukaan, yang di baliknya justru digerakkan oleh kepentingan-kepentingan tadi. Vedi juga menilai, korupsi adalah “bahan bakar” sistem ekonomi-politik Indonesia. Artinya, selama sistem ekonomi-politik kita seperti ini, korupsi akan terus merajalela.

Di sisi lain, menurut Vedi, bagaimanapun, resentralisasi Prabowo sedang dan akan menghadapi banyak kontradiksi. Gejolak ekonomi di tanah air saat ini, mulai dari nilai tukar rupiah yang makin merosot terhadap dolar hingga kenaikan harga BBM, antara lain adalah karena ongkos resentralisasi tersebut.

Resentralisasi juga akan membuat oligarki di tingkat daerah merasa ditinggalkan. Salah satu gejalanya adalah protes beberapa kepala daerah atas kebijakan pemotongan anggaran mereka. Beberapa PSN juga menimbulkan penolakan dari sebagian masyarakat lokal.

Lantas, adakah harapan bagi rakyat biasa, yang berada di luar oligarki (pengusaha-politisi-birokrasi) untuk menggapai keadilan dan kesejahteraan? Menurut Vedi, semua ini akan sangat tergantung pada kemampuan mereka mengelola kontradiksi-kontradiksi di atas sebagai peluang bagi pembentukan gerakan yang terpadu berdasarkan visi yang sama.

Menurutnya, ini bukanlah kerja sehari dua hari, melainkan kerja jangka panjang bertahun-tahun. Sayang, hingga saat ini, dia belum melihat adanya aliansi di masyarakat sipil yang cukup berpengaruh untuk melakukan gerakan tersebut.

Bagi sebagian orang, gambaran Vedi mungkin terasa pesimistis, sementara bagi yang lain justru terasa realistis. Yang pasti, Vedi telah membantu kita memahami apa yang tengah terjadi, dan memperkirakan apa yang bakal terjadi. Ke depan, tugas kita adalah menindaklanjutinya.

Kita bisa memilih untuk mewujudkan Reformasi Jilid 2, me-Reset Indonesia, atau mendukung aliansi kekuasaan saat ini. Kita bebas memilih, dan tiap pilihan akan ada akibatnya, di dunia dan akhirat! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
Live
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved