Berita Banjarmasin

Dipindah dari SMPN 15 ke SMP Terbuka, Putri Tidur Tak Semangat Belajar

Siti Raisa Miranda atau Echa (15), si putri tidur asal Banjarmasin, yang pernah viral di media maya dipindahkan dari Sekolahnya SMPN 15 Banjarmasin

Dipindah dari SMPN 15 ke SMP Terbuka, Putri Tidur Tak Semangat Belajar
instagram
Echa si Putri Tidur dari Banjarmasin saat diundang ke acara Hitam Putih Trans 7. 

BANJARMASIN, BPOST - Tak setuju anaknya dipindah dari sekolah negeri ke sekolah terbuka, Mulyadi mendatangi SMPN 15 Banjarmasin, Sabtu (24/8) siang.

Mengenakan sandal jepit dan baju kaus berkerah, dia adalah ayah Siti Raisa Miranda atau Echa (15), si putri tidur asal Banjarmasin, yang pernah viral di media maya.

Warga Jalan Pangeran Kecamatan Banjarmasin Utara itu mengaku selain memenuhi surat panggilan sekolah, dia ingin mempertanyakan pemindahan putrinya. Soalnya selain dirasa sepihak, pemindahan menimbulkan dampak bagi buah hatinya.

“Saya tidak pernah menandatangani surat pindah anak saya. Kan kalau sesuai prosedur, harus ada tanda tangan diketahui oleh orangtua,” ujarnya.

Baca: Raih Juara 2 Nasional Wana Lestari 2019, Mapala Sylva Tak Hanya Naik Gunung dan Jelajahi Hutan

Baca: Si Palui : Palandauan

Baca: Berikan Kesehatan Fantastis Pada Tubuh, Ini 10 Manfaat Rutin Jalan Kaki

Baca: Liverpool Kokoh di Puncak Klasmen Liga Inggris, Gol Mohamed Saleh Jungkalkan Arsenal 3-1

Echa juga dikatakannya kehilangan semangat belajar. Dia tidak ingin ke sekolah baru

karena setiap ke sekolah selalu tidak ada gurunya.

Mulyadi mengaku pemindahan Echa didengarnya sebelum pembagian raport kenaikan kelas beberapa bulan lalu.

Menyadari kekurangan Echa yang kerap tidak hadir ke sekolah lantaran kerap tertidur dalam waktu lama, Mulyani tidak menepis sempat mengeluarkan pernyataan ingin memindahkan anaknya ke SMP terbuka. “Kata saya ‘gimana kalau Echa ini dipindahkan ke SMP Terbuka aja ya?’ Tapi rupanya ditanggapi serius oleh pihak sekolah,” tambah Mulyadi.

Pada saat pengambilan rapor akhir tahun ajaran 2018/2019 atau kenaikan dari kelas delapan ke kelas sembilan beberapa bulan lalu, dia dipanggil seorang guru ke ruang bimbingan konseling. Guru itu menyodorkan surat bertuliskan pelanggaran ketertiban sekolah.

“Jadi karena surat itu tulisannya pelanggaran ketertiban, saya beranggapan kalau anak saya telah melanggar ketertiban. Cuma masalahnya, apakah pelanggaran ketertiban itu karena ketidakhadiran anak saya lantaran sakit selama ini? Ya kalau benar itu, maka saya sayangkan,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved