Jendela
Kompetisi
Kini kita sudah memasuki 2020, dasawarsa kedua abad ke-21. Dalam lima tahun terakhir, orang tidak lagi hanya berbicara tentang globalisasi
Keduanya akan berjumpa dan berpadu mesra jika tujuan kompetisi selaras dengan kepentingan di balik solidaritas.
• Jalan Alternatif ke Bandara Syamsudin Noor di Km 28-30, Siapkan Dana Kontruksi Rp 60 Miliar
• Wasiat Lina pada Teddy Terkait yang Merawat Bayinya, Sule Malah Jelaskan Ini Soal Adik Rizky Febian
• NEWSVIDEO : Ular Kobra Di Atap Dapur Bikin Geger Korban Banjir Di Cempaka
Suatu kali, bintang film Shahrukh Khan ditanya soal persaingan. Dia menjawab, “Saya bersaing dengan diri saya sendiri” (I compete against myself). Pernyataan ini bisa diartikan bahwa dia merasa tak ada lagi yang bisa menyainginya. Ini kesombongan. Tetapi bisa pula berarti, baginya melakukan yang terbaik bukanlah
untuk mengalahkan orang lain, tetapi menumbuhkan potensi diri yang terbaik untuk sesama.
Yang merisaukan, kini kompetisi sudah laksana agama, dan kemenangan laksana Tuhan. Kepentingan pribadi, yang kadang diperluas menjadi kepentingan kelompok, terlalu mendominasi.
Dari perlombaan menjadi juara kelas, pasar bebas hingga rebutan kekuasaan, semua adalah kompetisi. Kita rupanya harus kembali memikirkan ulang pertanyaan kuno: apa tujuan hidup kita dan apa artinya menjadi manusia? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/profesor-dr-h-mujiburrahman-ma-rektor-uin-antasari.jpg)