Jendela

Kompetisi

Kini kita sudah memasuki 2020, dasawarsa kedua abad ke-21. Dalam lima tahun terakhir, orang tidak lagi hanya berbicara tentang globalisasi

Kompetisi
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kini kita sudah memasuki 2020, dasawarsa kedua abad ke-21. Dalam lima tahun terakhir, orang tidak lagi hanya berbicara tentang globalisasi, tetapi tentang lanjutannya berupa revolusi industri keempat sebagaimana yang dipaparkan Klaus Schwab (2019).

Namun, setiap kali orang berbicara tentang perubahan zaman, orang selalu menyebutkan salah satu kata kunci: persaingan alias kompetisi.

Menurut KBBI, ‘persaingan’ adalah “usaha memperlihatkan keunggulan masing-masing yang dilakukan oleh perseorangan, perusahaan atau negara.”

Sedangkan kata ‘kompetisi’ diserap dari kata Inggris, competition, yang menurut Kamus Webster berarti “tindakan atau proses dari upaya mendapatkan atau memenangkan sesuatu, yang orang lain juga berusaha mendapatkan atau memenangkannya.”

Viral Atta Halilintar Berulah Lagi, Teman Dekat Aurel Hermansyah Minta Tiket Gratisan ke Amerika?

Satu Keluarga Tewas Tertimbun Tanah, Cuaca Ekstrem Sampai Pekan Depan

Ria Irawan Meninggal Dunia, Kenali Gejala Kanker Limfoma yang Diidap Teman Julia Perez Itu

Kesedihan Mendalam Ruben Onsu Diungkap Sosok Ini, Teror ke Ayah Betrand Peto & Sarwendah Menggila

Bagi banyak orang, lebih-lebih di era modern, kompetisi itu adalah hukum alam, dan karena itu tak terhindarkan.

Sejak sperma bersaing membuahi ovum di rahim ibu hingga bayi lahir menghadapi kekerasan alam, yang akan bertahan adalah yang paling kuat dan bisa menyesuaikan diri. Yang kalah, akan punah. Bangsa-bangsa yang berkuasa di muka bumi, adalah mereka yang menang (perang).

Kalau kita cermati lebih dalam, kompetisi itu menakutkan karena logikanya adalah kalah atau menang. Yang menang berjaya, yang kalah merana. Karena itu, berjuanglah untuk jadi pemenang, dan jangan sampai menjadi pecundang.

Teman-teman kita, saudara-saudara kita, bahkan keluarga kita, apalagi orang lain di luar lingkungan kita, pada hakikatnya adalah saingan kita, yang harus dikalahkan.

Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang menyukai kompetisi. Seorang kawan mengaku, dia akan penuh gairah mencapai sesuatu jika ada orang lain yang menjadi saingannya untuk dikalahkan.

Kalau tidak ada lawan, dia tidak bersemangat. Baginya, kemenangan adalah kebanggaan yang membuatnya semakin percaya diri. Dengan memenangi kompetisi, dia akan menemukan nilai atau harga dirinya.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved