BPost Cetak

Pencipta Lagu Banjar Harusnya Dapat Royalti, Sayang Banyak Tidak Lakukan Ini

Mestinya dapat royalti, sayang banyak pencipta lagu Banjar belum mendaftarkan karyanya ke lembaga berwenang yakni LMKN

Pencipta Lagu Banjar Harusnya Dapat Royalti, Sayang Banyak Tidak Lakukan Ini
BPost Cetak
BPost Edisi Selasa (25/2/2020). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta, pencipta lagu berhak mendapatkan royalti dari lagu-lagunya yang diputar, terlebih untuk kegiatan komersil seperti di tempat karaoke, kafe dan diskotek.

Idealnya, hal itu berlaku pula bagi pencipta lagu daerah, termasuk yang ada di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Namun sayangnya, menurut musisi Banua, Dino Sirajudin, banyak pencipta lagu Banjar belum mendaftarkan karyanya ke lembaga berwenang yakni Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).

Saat ini ada sembilan LMKN yang mendapatkan izin operasional dari Kementerian Hukum dan HAM yakni RAI, KCI, Wami, SELMI, PAPPRI, ARDI, Armondo, Starmusic dan PRCI.

Cincin Pernikahan Laudya Cynthia Bella Tak Ada di Jari Pasca Hapus Foto Engku Emran Jadi Sorotan

Sikap Mulan Jameela Saat Ahmad Dhani Akan Jumpa Maia Estianty di Indonesian Idol X RCTI

RUU Omnibus Law Didemo, Mahasiswa Tolak Masuk Kantor DPRD Kalsel

Pengusaha Karaoke Nego Petugas Royalti, Penarikan 2019 Capai Rp 90 Miliar

Lembaga hukum nirlaba ini diberikan hak menghimpun dan mendistribusikan royalti kepada angota.

“Untuk mendapatkan royalti, tentu ada prosedur yaitu mendaftarkan karyanya secara hukum. Dan saya belum tahu persis apakah sudah ada inisiatif dari teman-teman seniman di Banua untuk itu,” kata pencipta lagu Baras Kuning bersama almarhum Rasni ini.

Dino meyakini hal tersebut karena seniman atau pencipta lagu Banjar berkarya bukan untuk komersil.

“Setahu saya masih dianggap hobi sehingga tidak berharap banyak dari royalti dan sebagainya. Apabila lagunya diputar orang, mereka sudah senang. Tapi bukan berarti setuju atau mendukung pembajakan,” kata mantan Kepala Taman Budaya Kalsel ini.

Dino pun berharap pengusaha hiburan yang memutar lagu seniman Banjar bersikap bijaksana dengan membayar royalti.

“Tidak fair kalau mereka dapat keuntungan dari kegiatan komersilnya, sementara penciptanya tidak dapat apa-apa. Apalagi bagi mereka yang memang ekonominya pas-pasan, tentu royalti sangat berarti,” kata Dino.

Sementara itu anak pencipta lagu Banjar almarhum Anang Ardiansyah yakni Riswan Irfani mengaku setiap tahun keluarganya mendapat royalti. Hal itu karena karya Anang Ardiansyah sudah didaftarkan di Karya Cipta Indonesia (KCI).

“Di KCI, ada sekitar lima sampai enam lagu, khususnya yang populer almarhum dan setiap tahun ada dapat royalti dengan nominal di bawah Rp 1 juta. Kami tidak mengetahui persis berapa kali diputar dan lain sebagainya. Azas kepercayaan saja,” kata Riswan.

Operasi Jaran Intan di HSU Amankan 9 Tersangka, Polres HSU Ungkap Delapan Kasus Curanmor

Satreskrim Polresta Banjarmasin Terima Pelimpahan Kasus Dugaan Pembuatan Tiktok Adegan Mesum

VIDEO Dishub Kalsel Sediakan 10 Bus BRT untuk Mengantar Jemaah Haul Guru Sekumpul Secara Gratis

Mengenai perbedaan royalti dengan lagu pop, Riswan memiliki pandangan tersendiri.

“Lagu daerah dan lagu pop tentu beda perlakuannya. Lagu daerah biasanya tidak untuk komersil. Misalnya almarhum abah, menciptakan lagu karena ingin melestarikan lagu Banjar dan bisa menjadi kebanggaan daerah sendiri. Sedangkan lagu pop tentu untuk komersil. Makanya ketika lagu-lagunya diputar atau dibawakan orang lain juga senang. Apalagi jika meminta izin terlebih dahulu, itu sudah merupakan sebuah bentuk penghormatan,” katanya. (ran)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved