Tajuk

Ledakan Corona dari Arus Balik

Berbagai cara dilakukan pemudik agar lolos dari petugas yang berjaga di sejumlah titik. Bahkan ada yang menawarkan jasa dengan meminta bayaran mereka.

(Istimewa)
Sopir angkutan barang asal Kalsel ini nekat angkut pemudik dengan menyembunyikannya di box belakang mobil pikap untuk mengelabui petugas. 

Editor:  Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Jujur saja, larangan mudik lebaran Idulfitri 1441 H, yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020, yang bertujuan untuk memerangi pandemi Covid-19, tidak berjalanan dengan sempurna di lapangan. Masih saja ada warga yang mudik.

Masih adanya warga yang mudik di tengah wabah corona ini bukan karena tidak adanya petugas di lapangan atau kurang sosialisasinya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tersebut, tapi karena kenekatan pemudik sendiri. Yang tentu dengan dilandasi berbagai alasan masing-masing, satu di antaranya ingin berkumpul dan bermaaf-maafan dengan orangtua, sanak saudara, sahabat, teman-teman yang masih tinggal di kampung halaman.

Dari pemberitaan di media, baik itu cetak, televisi, maupun online, ada berbagai trik dilakukan para pemudik agar bisa lolos dari petugas yang berjaga-jaga di sejumlah titik.

Ada yang lewat jalan tikus, ada berjalan kaki, ada yang sembunyi dalam truk barang, ada yang menyewa ambulans dengan dalih membawa pasien corona, ada yang membeli surat keterangan sehat yang sempat bisa dibeli lewat aplikasi online.

Jalur Darat Dijaga Ketat, Pemudik dari Palangkaraya Nekat Melewati Jalan ini

Daftar Hukuman Bagi PNS yang Nekat Mudik Selama Pandemi Covid-19, Nomor 6 Paling Parah

Pura-pura Sakit Tifus, Ibu dan Anak Nekat Sewa Ambulans, Ternyata untuk Mudik dari Bali ke Jember

Petugas Pos Kabupaten Tanahbumbu Sebut Arus Mudik Lengang

Celakanya di antara larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah dan keinginan warga mudik itu ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan.

Pihak tidak bertanggung jawabnya itu menawarkan jasa mudik menggunakan mobil pribadi untuk mengangkut penumpang atau yang dikenal dengan travel gelap.

Berapa warga yang berhasil mudik? Tidak ada yang tahu jumlahnya. Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid 19 sendiri, baik di tingkat pusat, provinsi, kota maupun kabupaten tidak punya data terkait jumlah para pemudik ini.

Warga yang belum tertular corona sangat berkepentingan dengan keseriusan pemerintah.

Dengan kata lain warga tidak mau menjadi penderita corona.

Langkah yang bisa diambil yaitu membatasi arus masuk setelah Lebaran. Jangan sampai mereka yang baru kembali dari mudik justru menyebarkan virus kepada mereka sehat, sehingga terjadi ledakan jumlah penderita corona.

Karena itu, mau tidak mau petugas di lapangan harus mengetatkan penjagaan dan pemeriksaan, tidak saja di jalan utama tapi di jalan-jalan tikus yang digunakan para pemudik saat meloloskan diri. Selain itu warga di tingkat RT dan RW juga harus tegas terhadap para pemudik. (*)

Editor: Alpri Widianjono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved