Jendela

Kebebasan Berpendapat

Ungkapan (alm.) Nurcholish Madjid atas euforia kebebasan masyarakat setelah lama berada dalam cengkeraman Orde Baru ‘sekali merdeka, merdeka sekali.’

Editor: Alpri Widianjono
ISTIMEWA
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mujiburrahman. 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - DULU orang bilang, ‘sekali merdeka, tetap merdeka’. Sekarang, di masa Reformasi, yang terjadi adalah ‘sekali merdeka, merdeka sekali.’

Begitulah kurang lebih ungkapan terkenal (alm.) Nurcholish Madjid (Cak Nur). Beliau mengamati euforia kebebasan masyarakat Indonesia setelah lama berada dalam cengkeraman pemerintah otoriter Orde Baru.

Kehadiran ponsel pintar dan media sosial di abad ke-21 ini membuat fenomena ‘merdeka sekali’ itu semakin nyata.

Sejak Reformasi dimulai, menyusul kejatuhan Soeharto pada 1998, kita bertekad melaksanakan demokrasi.

Salah satu nilai penting dalam demokrasi adalah kebebasan, terutama kebebasan berpendapat dan berserikat.

Perbedaan tidak hanya dihormati, bahkan dirayakan. Karena itu, demokrasi tidak hanya berisik, tetapi kadangkala ribut dan bising.

Suasana saling mengkritik, membantah hingga tuding-menuding tentulah tidak nyaman. Namun, justru dengan adu argumen itulah kita diharapkan bisa membuat keputusan yang tepat.

Demikianlah, demokrasi nyaris identik dengan kebebasan. Setiap orang dihargai sebagai individu yang mandiri, yang mempunyai hak menyampaikan pendapat sebagai warganegara.

Namun, kebebasan tanpa batas adalah mustahil. Kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Kebebasan yang liar bukan demokrasi tetapi anarki alias kekacauan.

Inilah yang disebut Cak Nur ‘merdeka sekali’ atau kebebasan yang kebablasan. Karena itu, kebebasan harus dikelola secara damai (tanpa kekerasan) dan berkeadilan (hukum ditaati dan ditegakkan).

Berkat ponsel pintar dan aplikasi media sosial, kebebasan individu untuk berpendapat dan berserikat semakin terbuka dan tersiar.

Jangankan di negara demokratis seperti Indonesia, di negara otoriter pun pemerintah sulit mengontrol kebebasan media sosial di dunia maya Itu.

Saling silang pendapat dari yang santun hingga caci maki penuh amarah dan benci bermunculan tak terkendali.

Foto, video, tulisan dan coretan gambar terus mengalir tiap detik, dengan aneka pesan yang dikandungnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved