Jendela
Kebebasan Berpendapat
Ungkapan (alm.) Nurcholish Madjid atas euforia kebebasan masyarakat setelah lama berada dalam cengkeraman Orde Baru ‘sekali merdeka, merdeka sekali.’
Di dunia maya ini, perbedaan identitas, ruang dan waktu, tak lagi membatasi kebebasan seseorang.
Dalam situasi yang sangat terbuka untuk bebas hingga liar tersebut, sebagian pemerintah berusaha mengendalikannya melalui hukum.
Ada hukum yang menjerat orang yang menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian hingga penghinaan.
Di sisi lain, banyak pula yang menolaknya dengan alasan, hukum tersebut akan gampang disalahgunakan penguasa untuk membungkam lawan-lawannya.
Bahkan ada yang menilai, kebebasan berpendapat juga berarti bebas menyampaikan pendapat dengan bahasa dan ungkapan kasar selama sasarannya adalah jabatan publik.
Dalam kolomnya di Kompas, 19 Agustus 2023 kemarin, Ariel Herinyanto menyarankan pembedaan antara caci-maki dan menghina.
Caci maki menurutnya adalah ungkapan frustrasi dan marah dari kalangan yang lemah, terhadap mereka yang kaya dan berkuasa.
Caci maki itu memang kotor seperti sampah atau bau busuk seperti kentut, namun ia perlu dikeluarkan agar orang tahu ada yang tidak beres, yang perlu diperhatikan.
Sebaliknya, menghina itu datang dari orang yang kuat, berkuasa dan/atau kaya terhadap orang yang lemah. Menghina muncul dari keangkuhan dan arogansi.
Pandangan Ariel di atas menunjukkan kepedulian kepada yang lemah dan miskin, yang suaranya kurang terdengar dan terwakili.
Karena itu, jangankan kritik yang santun, caci maki mereka pun perlu diperhatikan. Adapun yang kuat dan berkuasa, tidak boleh berkata-kata kasar kepada yang lemah, karena akan cenderung menghina.
Namun, diam-diam di sini ada asumsi seolah apa yang dikatakan oleh atau atas nama yang lemah selalu mengandung pesan yang benar.
Padahal, kenyataan tidak selalu demikian. Pejabat atau rakyat, keduanya adalah manusia yang bisa benar, bisa pula salah.
Apalagi, di zaman pasca-kebenaran ini, orang cenderung mengabaikan ukuran-ukuran kebenaran. Sesuatu dianggap benar semata-mata karena sesuai dengan selera subjektif belaka.
Tak jarang kita temukan kritik yang berapi-api, ternyata setelah diperhatikan, nalarnya tidak logis. Argumentasinya tidak koheren.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)