Kolom
Independensi Guru Sekumpul
Haul Guru Sekumpul telah berlangsung, Posko Induk Haul Sekumpul memperingatkan agar seluruh peserta pemilu tidak memakai foto guru pada APK
Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejak krisis Covid-19 pada 2020, makam Tuan Guru Haji Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul (1942-2005) masih tertutup untuk umum. Seorang tamu dari luar daerah bertanya pada saya, “Mengapa masih ditutup? Bukankah Covid-19 sudah lewat?” Yang tahu persis jawabnya tentu pihak keluarga beliau.
Saya hanya menduga, alasan utama di balik itu adalah menjaga marwah Guru agar tidak dimanipulasi oleh kepentingan politik.
Reaksi kritis keluarga Sekumpul terhadap pihak tertentu yang melaksanakan ‘Haul Akbar’ tahun 2023 adalah petunjuk yang jelas ke arah itu. Tahun lalu pula, haul tidak hanya terpusat di Musala Ar Raudhah Sekumpul, melainkan juga dilaksanakan di berbagai tempat dengan jadwal yang sama atau berbeda.
Karena itu, orang-orang tidak lagi berkerumun dalam jumlah besar pada hari dan malam yang sama. Jalan-jalan tidak lagi macet. Dengan demikian, para pemain politik sulit memanfaatkan massa secara keseluruhan.
Tahun 2024, Posko Induk Haul Sekumpul lebih tegas lagi memperingatkan agar seluruh peserta pemilu: (1) tidak menyertakan foto Guru Sekumpul di Alat Peraga Kampanye (APK), (2) tidak membuat ucapan selamat terkait haul “yang berbau atau bernuansa politik, promosi atau sejenisnya”, dan (3) semua APK di kawasan Sekumpul “dicopot atau dilepas sementara waktu, dari tanggal 11 sampai dengan 23 Januari 2024. Ini dilakukan untuk menjaga kekhusu’an acara serta netralitas tempat dan kegiatan acara.”
Apakah pihak Sekumpul anti-politik? Saya kira tidak. Mereka bukan anti-politik, tetapi mencegah orang-orang yang ingin menjual nama besar Guru Sekumpul untuk kepentingan kekuasaan belaka.
Sikap ini justru merupakan salah satu cara berpolitik. Sebagai tokoh yang membimbing jemaah yang amat banyak, Guru Sekumpul tentu memiliki modal sosial yang besar, yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan politi
k. Namun, sepanjang hidupnya, beliau tidak mau melakukan itu. Sikap ini terus dipertahankan oleh keluarga Sekumpul hingga sekarang.
Mengapa? Mungkin beliau ingin menjadi ulama untuk semua, bukan khusus untuk partai tertentu atau para pendukung calon tertentu. Jika ulama sudah memihak satu partai atau satu calon, maka sedikit atau banyak, dia telah membuat garis pemisah dengan umat yang berbeda pilihan dan dukungan. Ini tentu tidak baik bagi misi dakwah yang seharusnya merangkul semua pihak.
Dengan bersikap netral, Guru Sekumpul dapat menerima tamu politisi dari partai atau calon manapun yang datang ke pengajiannya. Inilah tampaknya yang kini ingin terus dijaga oleh keluarganya.
Alasan lain yang mungkin adalah, beliau ingin menjaga marwah, martabat dan kehormatan ulama. Jika seorang ulama bergabung dengan satu partai atau menjadi tim pemenangan pasangan calon tertentu, muncul kesan bahwa dia mendapatkan sesuatu dari pihak-pihak yang didukungnya itu.
Ada kesan bahwa dirinya tergoda pada iming-iming duniawi sehingga dapat dibeli oleh para politisi dan pemilik modal. Kesan ini bisa saja salah. Namun, kesan tersebut sulit dihindari, terutama dalam kacamata publik. Akibatnya, marwah ulama akan jatuh dan diremehkan orang.
Alasan lainnya, mungkin beliau ingin memberikan teladan kepada para ulama lain, khususnya yang menjadi murid-muridnya, bahwa menekuni kajian agama adalah tugas yang sangat penting dan mulia.
“Jika guru-guru agama semuanya terjun ke dunia politik, siapa lagi yang mengurus majelis taklim dan pengajian?” begitu kurang lebih kata beliau.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)