Jendela
Marwah Ilmuwan
SELAMA proses pemilu hingga pencoblosan dan hasil hitung cepat pada 14 Februari 2024 lalu, salah satu yang menjadi perbincangan publik
SELAMA proses pemilu hingga pencoblosan dan hasil hitung cepat pada 14 Februari 2024 lalu, salah satu yang menjadi perbincangan publik adalah, bagaimanakah sikap kaum terpelajar, yang biasa kita sebut cendekiawan, ulama atau ilmuwan, terhadap dinamika demokrasi di negeri ini?
Kalau kita merujuk kepada tradisi keislaman, mungkin masalah ini dapat ditemukan dalam wacana tentang ilmu versus harta dan kuasa.
“Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.” Begitu kurang lebih ungkapan Tuan Guru Haji Muhammad Zaini atau Guru Sekumpul yang pernah diceritakan ayah kepadaku.
Mungkin karena itu, sependek pengetahuan saya, kala muda Guru Sekumpul mengajar di Pesantren Darussalam dan setelah agak tua di majelis beliau sendiri yang sifatnya rutin dengan bahan ajar (kitab) tertentu sebagai pegangan.
Baca juga: Sri Hadi Tak Ingin Jadi Ketua Dewan Balangan, Parpol Mulai Hitung Perolehan Kursi
Baca juga: Kisruh Sirekap
Beliau bukan penceramah keliling. Jika diundang ke suatu tempat, beliau biasanya hanya membaca syair maulid dan doa, tidak ceramah.
Mengapa beliau bersikap demikian? Saya tidak tahu persis alasannya, tetapi mencoba menduga-duga saja.
Mungkin alasannya adalah agar orang benar-benar menghargai ilmu, melebihi kekayaan dan kekuasaan.
Dalam dunia kita yang sangat materialistik, ketika nilai diri seseorang ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan yang dimilikinya dan seberapa besar kekuasaan yang dipegangnya, orang perlu disadarkan bahwa sebenarnya ilmu jauh lebih berharga.
Para ilmuwan/ulama jangan menjual murah ilmu. Dalam bahasa Alqur’an, “Jangan menjual ayat-ayat-Ku dengan harga receh!” (QS 5:44).
Karena itu, maksud beliau bahwa ‘ilmu didatangi, bukan mendatangi’ bukan berarti melarang orang untuk mendatangi jemaah yang siap mendengarkan ceramah atau khotbah, tetapi sebagai pengingat, bahwa jangan sampai sang ulama/ilmuwan mau merendahkan dirinya, diatur-atur oleh orang-orang kaya dan/atau berkuasa demi kepentingan mereka.
Yang dikhawatirkan mungkin adalah, jika para ahli ilmu tampak rendah diri di depan orang kaya dan/atau berkuasa, maka masyarakat akan semakin membabi-buta memuja harta dan jabatan di satu sisi, dan merendahkan nilai ilmu di sisi lain.
Mungkin itu pula sebabnya, Guru Sekumpul menunjukkan bahwa dia secara ekonomi mandiri dan kehidupannya sejahtera. Ketika tampil di depan publik, beliau memakai pakaian yang indah, dan ketika bepergian menaiki mobil yang bagus.
Baca juga: Pleno Kecamatan Mulai Digelar, Prabowo-Gibran Sementara Masih Tetap Unggul di Tanahlaut
Semua itu didapatkannya bukan dengan meminta-minta kepada pengusaha atau penguasa, melainkan melalui bisnis yang beliau kelola bersama orang-orang yang dipercaya.
Yang lebih penting lagi, beliau menunjukkan sifat pemurah, suka memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Ia zuhud. Ia memiliki harta, tetapi tidak dimiliki harta itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)