Fikrah

Nisfu Syakban

Kata Rasulullah SAW, “bulan Syakban sering terlupakan, padahal amal manusia di setiap tahunnya diangkat ke hadirat Allah SWT padanya”.

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

KH Husin Naparin Lc MA, Ketua Umum MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - SYAKBAN adalah nama satu bulan dalam perhitungan tahun hijriyah antara Rajab dan Ramadhan. Kata Rasulullah SAW, “bulan ini sering terlupakan, padahal amal manusia di setiap tahunnya diangkat ke hadirat Allah SWT padanya”.

Rasulullah SAW pun banyak berpuasa melebihi bulan-bulan lain selain Ramadhan; karena menginginkan diangkatnya amal itu dalam keadaan berpuasa. (HR. Nasa’i dan Abu Daud dan Ibnu Huzaimah).

Peristiwa bersejarah pernah terjadi di bulan ini, yaitu diubahnya kiblat salat dari arah Masjid Al Aqsa, di Palestina ke arah Ka’bah Baitullah di Makkah al Mukarramah pada tahun ke 2 Hijriyah.

Pertengahan bulan ini disebut “Nisfu Syakban” yaitu malam kelima-belas; termasuk salah satu di antara malam-malam yang bagus dan utama dalam berdoa menggapai kelapangan hidup; bahkan menurut Al-Wana’i, seorang ulama, malam Nisfu Syakban adalah urut kedua setelah malam al Qadar yang dirahasiakan Allah SWT dan malam ini tidak dirahasiakan oleh-Nya.

Rasulullah SAW bersabda : “Bila malam nisfu Syakban tiba maka dirikanlah salat pada malamnya dan puasalah disiang harinya; karena sesungguhnya Allah SWT turun pada malam itu ke langit dunia (mungkin rahmat atau malaikat-Nya, wallahu a’lam) dengan tenggelamnya matahari dan beseru : “Adakah orang yang memohon ampun, niscaya Aku ampuni; adakah orang yang memohon rezeki, niscaya Kuberi; adakah orang yang mendapat bencana (sakit minta kesembuhan), niscaya Aku sembuhkan”; demikian seterusnya, hingga terbit fajar”. (HR. Ibnu Majah).

Aisyah r.a. berkata : “Suatu malam Rasulullah SAW mendirikan salat malam. Ia sujud lama sekali, sehingga kukira ia telah wafat. Aku bangun, lalu aku sentuh jari kakinya, ternyata bergerak. Akupun kembali. Kudengar dalam sujudnya ia berdoa : “Allahumma inni a’uzu bi-afwika min ‘iqabika, wa a’uzu biridhaka min sakhatika, wa a’uzubika minka ilaika, la uhshi tsana’an alaika anta kama atsnaita ala nafsika, artinya aku berlindung dengan kemaafanMu dari azabMu, aku berlindung dengan redhaMu dari murkaMu dan aku berlindung kepadaMu dariMu, aku tidak bisa menghitung puji-pujianku kepadaMu sebagaimana Engkau mampu menghitung pujianMu untuk diriMu”.

Usai salat, ia mengangkat kepalanya dan berkata : “Aisyah, Ya Humaira, apakah kau kira nabimu telah mengkhianatikmu ?”. Aku menjawab; “ tidak wahai Rasul, malah kukira kau telah meninggal karena lamanya kau sujud”.

Rasul SAW berkata : “Tahukah kau malam apa ini ? Kujawab lagi : “Allah dan Rasulnya yang tahu”. Kemudian Rasulullah SAW menerangkan : “Malam ini adalah malam nisfu Syakban, Allah SWT mengampuni orang-orang yang memohon ampun, memberikan rahmat kepada orang-orang yang memohon rahmat dan menunda siksa para pendengki seperti apa adanya (HR. Baihaqi).

Allah SWT memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam nisfu Syakban. Dia ampuni semua mereka kecuali orang-orang yang berseteru dan bunuh diri (HR. Ahmad dari Abdullah bin Amru).

Orang yang mendapat keampunan itu banyak sekali, sebanyak bulu-bulu kambing suku Kalb (yang terkenal gemuk dan lebat bulunya), namun Allah SWT tidak memandang kepada orang-orang musyrik, pemutus silaturrahmi, orang sombong, pendurhaka orang tua, dan pencandu minuman keras. (HR. Baihaqi).

Syekh Ahmad Asy Syarbashi dalam bukunya “Yas’alunaka fi addin wa al hayat” (Juz 4, hal. 355) mengakui tidak bisa dipungkiri bahwa malam nisfu Syakban adalah malam yang dianjurkan untuk disemarakkan dengan zikir, tahajjud, doa dan istigfar sesuai kemampuan seseorang, minimal shalat Magrib dan Isya berjamaah ditambah dengan sunnat-sunnatnya dan berzikir semampunya yang tidak bertentangan dengan syariat.

Beliau menandaskan pula tidak adanya amaliyah khusus yang harus dilaksanakan pada malam tersebut. Dengan demikian terdapat adanya cara yang berbeda dan doa yang bervariasi dikalangan umat Islam dalam menyambut Nisfu Sya’ban; ada yang berjamaah di masjid-masjid, ada yang hanya di rumah sekeluarga, atau bahkan dalam kesendirian.

Selamat bernisfu Sya’ban, untuk menghadapi Ramadhan yang penuh berkah. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved