Tajuk

Solidaritas Hadapi Kanker

Menurut data Globocan pada 2020, jumlah penderita kanker anak (0-19 tahun) sebanyak 11.156 jiwa

Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Dok
Tajuk : Kanker 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KANKER masih menjadi penyakit menakutkan di kalangan masyarakat, tidak terkecuali di Banua. Penyakit ini tercatat sebagai mematikan nomor dua di dunia. Tidak hanya orang dewasa, tapi anak-anak banyak yang menjadi penderitanya.

Menurut data Globocan pada 2020, jumlah penderita kanker anak (0-19 tahun) sebanyak 11.156 jiwa.

Dari angka itu, leukemia menempati posisi pertama dengan 3.880 kasus (34,8 persen) sedangkan kanker getah bening dan kanker otak masing-masing dengan 640 kasus dan 637 kasus (5,7 persen).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), juga pernah merilis tiga kanker yang paling banyak membunuh orang di seluruh dunia pada tahun 2020. Ketiganya adalah kanker paru-paru (1,80 juta kematian), kanker kolorektal (916.000 kematian) dan kanker hati (830.000 kematian).

Penyebab kanker berbeda-beda. Pada orang dewasa berkaitan dengan gaya hidup yang tidak sehat dan lingkungan. Sedangkan kanker pada anak kebanyakan disebabkan interaksi dari berbagai hal, salah satunya genetik.

Meski menakutkan dan punya stigma buruk, namun risiko kanker sebenarnya bisa ditekan termasuk menyelamatkan nyawa penderitanya.

Beberapa hal yang disarankan WHO adalah penerapan gaya hidup sehat, menekankan diagnosa dan pengobatan dini. Sayangnya keterbatasan ekonomi dan mahalnya biaya pengobatan masih jadi momok.

Dokter Spesialis Anak di RSUD Ulin Banjarmasin, dr Wulandewi Marhaeni SpA (K) bilang salah satu faktor yang membuat kanker makin parah karena penderita telat menjalani pengobatan.

Pemahaman tentang kanker kurang sehingga angka diagnosis rendah, pasien putus pengobatan, dan minim supportif care. Ketersediaan obat juga masih jadi masalah. Selain itu jumlah dokter spesialis masih kurang.

Persoalan kanker memang cukup pelik. Tidak hanya perlu mendorong kesadaran masyarakat untuk menjalani pengobatan sejak dini, tapi juga harus disiapkan sarana dan prasarana serta tenaga ahli yang memadai dan memiliki kemampuan andal.

Pemerintah juga perlu memikirkan kemampuan masyarakat kalangan bawah mengakses pengobatan kanker. Selama ini pengobatan kanker memang ditanggung BPJS. Namun dampak fasilitas pengobatan kanker belum merata, masyarakat daerah pinggiran membutuhkan dana besar untuk berobat ke kota.

Selain biaya transportasi, juga biaya hidup selama mengurusi kerabatnya yang sedang berobat di rumah sakit di kota.

Untuk itu kebersamaan, solidaritas dan gotong royong menghadapi kanker perlu terus dipupuk dan dibina di kalangan masyarakat. Ayo peduli dengan sesama yang membutuhkan, seperti penderita kanker. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved