Kolom
Citra Orang Banjar
Saat ini masih banyak keturunan Banjar yang berada di Malaysia dan mereka ada jadi pejabat, namun banyak dari Orang Banjar ini tak bisa bahasa banjar
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - MINGGU lalu, 28-31 Juli 2024, saya berkunjung ke Ipoh, Perak, Malaysia, dalam rangka menghadiri Rapat Komite Asian Islamic Universities Association (AIUA) dan World Conference on Islamic Thought and Civilization (WCIT) yang diselenggarakan oleh Universiti Sultan Azlan Shah (USAS).
Di sela-sela kegiatan tersebut, saya beruntung dapat bersilaturrahmi dengan tokoh-tokoh senior (tutuha) keturunan Banjar, bertempat di Hotel Casuarina, Meru. Tak disangka, yang hadir cukup banyak, yakni 40 orang lebih. Sebagian besar adalah generasi tua, dan sebagian kecil anak-anak muda.
Pertemuan itu dipandu oleh tokoh Banjar, Haji Jamaluddin, yang sudah biasa berhubungan dengan para tamu dari Banjar, terutama para pejabat. Beliau memperkenalkan tokoh-tokoh yang hadir kepada saya. Ada tiga orang mantan Bupati Distrik Kerian, yaitu Dato Ismail Hasan, Dato Kamarudin Awang dan Haji Abd Latiff Masud.
Seorang lagi adalah bupati yang masih aktif, yaitu Haji Mohd Sabli Bakri yang semula juga menjadi Bupati Kerian, dan sekarang menjadi Bupati Distrik Mualim. Sebagian yang hadir ada pula ulama, pegawai bank, pegawai urusan agama, akademisi, dan pengusaha.
Dalam sambutan atas nama warga Banjar, Haji Mohd Sabli Bakri mengatakan bahwa mayoritas anak muda keturunan Banjar generasi ketiga dan keempat di Malaysia sudah tidak bisa berbahasa Banjar. Mereka sudah kawin-mawin dengan suku lain, dan lebih sering menggunakan bahasa Melayu atau Inggris.
Sebagian mereka bahkan malu menggunakan bahasa Banjar. Namun, dia berharap makanan-makanan khas Banjar (kuliner) dan kain sasirangan kiranya dapat terus diwariskan dan dikembangkan warga Banjar perantauan ini sebagai identitas budaya mereka.
Saat diberi kesempatan berbicara, saya katakan bahwa mungkin nenek moyang orang Banjar yang hijrah ke Perak dahulu antara lain akibat kekecauan Perang Banjar (1859-1906). Dalam budaya Banjar, ada yang disebut “madam”, yaitu merantau ke negeri orang untuk mencari rezeki dan ilmu.
Karena itu, kebanyakan orang Banjar adalah petani, pedagang dan ulama. Baru belakangan mereka terjun ke dunia politik di perantauan. Sekarang, budaya madam itu mulai pudar. Konon kini generasi muda lebih suka “bakunjang”, jalan-jalan ke negeri orang, hanya wisata saja, tidak menetap lama.
Dalam dialog, seorang tokoh bertanya, mengapa diaspora Banjar banyak di kawasan Sumatera dan Malaysia, tidak di kawasan Timur? Saya menduga, sebabnya adalah dulu jalur pelayaran yang ramai memang melalui kawasan itu. Orang Banjar yang terkenal suka naik haji, dulu banyak yang mampir di Singapura. Sebagian ada yang gagal berangkat ke tanah suci, lalu pulang kampung, sehingga disebut “Haji Singapur”. Pada abad ke-18, Muhammad Arsyad al-Banjari bersahabat dengan Abd al-Shamad al-Palimbani, dan kitab Sabîlal Muhtadîn adalah komentar atas karya ulama Aceh, Nuruddin al-Raniri.
Yang lebih menarik adalah pertanyaan tentang citra orang Banjar di Perak. Seorang kawan akademisi dari USAS yang berasal dari Sungai Manik mengatakan, orang Banjar terkenal pemberani, terutama saat melawan penjajah Inggris dan gerakan komunis. Citra berani ini rupanya kuat melekat dalam benak suku lain, dan kadang bisa pula bermakna negatif.
Ungkapan “parak kutimpas, jauh kusasahi” (dekat kutebas, jauh kukejar) adalah semboyan yang beredar di kalangan orang Banjar. Seorang akademisi yang hadir meminta pendapat saya perihal citra orang Banjar yang demikian itu.
Saya kira, salah satu sebab mengapa orang Banjar dulu begitu adalah karena mereka berada di perantauan. Sudah biasa, kalau mau merantau, orang akan membawa banyak sangu, termasuk ilmu beladiri dan rupa-rupa doa hingga ramuan kebal. Tujuannya agar bisa bertahan hidup, bukan untuk menyerang orang lain. Mentalitas perantau umumnya memang begitu, tidak hanya khas orang Banjar. Para perantau biasanya berjiwa petarung agar hidup sukses. Kita juga bisa melihat para perantau Jawa, Madura dan Bugis di Kalimantan. Mereka pemberani dan pekerja keras.
Karena itu, kita patut berhati-hati dengan citra sebagai sebuah identitas. Jangan sampai kita menganggap ada hakikat asli yang tak berubah pada diri orang Banjar yang suka main tebas (batimpas). Padahal, manusia sebagai manusia, semua sama, apapun etnisnya. Kebudayaan memang membentuk diri seseorang, tetapi kebudayaan juga tidak beku, melainkan terus bergerak, berubah dan dinamis. Jika nenek moyang orang Banjar dulu terkenal jagoan dan pemberani, generasi yang baru belum tentu begitu karena pengalaman hidup yang mereka jalani sudah berbeda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)