Kolom
Citra Orang Banjar
Saat ini masih banyak keturunan Banjar yang berada di Malaysia dan mereka ada jadi pejabat, namun banyak dari Orang Banjar ini tak bisa bahasa banjar
Sebagai respons terhadap krisis bahasa Banjar, saya menyarankan agar mereka membaca cerita Si Palui yang terbit tiap hari di Banjarmasin Post dan bisa diakses secara daring. UIN Antasari juga telah menerbitkan terjemahan Al-Qur’an ke bahasa Banjar, yang akan dicetak ulang. Saya juga memberikan buku karya Ahmad Makkie dan Syamsiar Seman, Peribahasa dan Ungkapan Tradisional Bahasa Banjar (2022). Saya berharap, Pertubuhan Banjar Malaysia masih bisa membuat kumpulan cerpen bahasa Banjar seperti yang dulu pernah terbit berjudul Suahkah Pian Batakun? (2013).
Dalam perjalanan pulang, sebagai orang Banjar yang hidup di Banua Banjar, Kalimantan Selatan, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah masyarakat Banjar sekarang masih pemberani? Jika memang pemberani, berani karena apa? Apakah berani asal berani saja (kada balampu)? Saat pemilu/pilkada dilaksanakan, apakah orang Banjar berani membela yang benar, atau membela yang bayar? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)