Jendela
Karikatur Politisi dan Pelacur
Setiap orang punya potensi untuk baik atau buruk, adil atau zalim, jujur atau korup. Karena itu, pembatasan dan kontrol atas kekuasaan harus ada
Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBUAH karikatur berbahasa Inggris lewat di beranda Facebook saya. Karikatur itu menggambarkan dialog singkat antara seorang politisi dan seorang pelacur. Si lelaki politisi hidung belang berkata, “Meskipun aku ini seorang politisi, aku tak pernah berbohong.” Tak membantah sedikit pun, si cantik pelacur menanggapi, “Aku juga. Meskipun aku pelacur, aku masih perawan.”
Namanya juga karikatur. Menurut KBBI, karikatur adalah “gambar olok-olok yang mengandung pesan, sindiran dan sebagainya.” Karikatur adalah gambaran kasar tentang kenyataan, bukan kenyataan sebagaimana adanya, yang lengkap dan rinci. Namun, ia menghadirkan sesuatu yang menjadi pokok perhatian. Mungkin karikatur itu mirip dengan perempuan memakai bikini yang hampir telanjang, tetapi banyak lelaki akan memandangi bagian tubuhnya yang tertutup, yang justru sangat sedikit!
Kita sudah tentu sering mendengar bahwa politik itu kotor, bahkan najis. Berbohong dan menipu adalah hal biasa dalam politik. Ada yang menyebutnya strategi dan taktik. Ada lagi yang menyebutnya siasat dan muslihat. Semuanya kurang lebih berarti cara-cara yang dilakukan untuk bisa mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Politik seringkali dianggap kotor karena ia menghalalkan segala cara. Apapun caranya, yang penting kekuasaan didapat dan dipertahankan.
Namun, kita juga menemukan fakta bahwa ada para politisi (penguasa) yang menunjukkan perilaku sebaliknya. Dia mendapatkan kekuasaan dengan cara-cara yang selaras dengan nilai-nilai moral, dan menggunakan kekuasaan itu untuk mencapai tujuan mulia, yaitu kebaikan bersama. Kalau ditelusuri sejarah, para penguasa semacam ini jumlahnya mungkin tidak banyak, tetapi jelas ada. Sebagian mereka konsisten selama berkuasa, dan sebagian lagi berubah di tengah jalan.
Ketika kami mempelajari Divine Comedy karya Dante Alighieri (1265-1321) bersama Prof. Torrance Kirby di McGill University, saya semula heran mengapa di paradiso (surga) Sulaiman digambarkan Dante bagai cahaya paling terang dalam lingkaran kecil. Ternyata, menurut Prof. Kirby, hal itu karena Sulaiman adalah seorang Nabi sekaligus penguasa. Dia tidak hanya mendapatkan wahyu ilahi, tetapi juga bisa melaksanakannya dengan menggunakan kekuasaan. Dia memadukan refleksi dan aksi.
Begitu pula Michael H. Hart ketika ia menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh nomor satu dari seratus tokoh paling berpengaruh di dunia. Hart antara lain mengatakan bahwa Muhammad tidak hanya seorang Nabi yang berhasil menyampaikan dakwah agama Islam, melainkan juga seorang penguasa yang sukses. Ini merupakan perpaduan yang istimewa dan jarang sekali terjadi. Kesuksesan dakwah dan politik itu bahkan dilanjutkan oleh para penerusnya hingga berabad-abad.
Sebuah hadis mengatakan, “para ulama adalah pewaris para Nabi.” Menurut Sufi besar, Ibnu Arabi (1165-1240), yang diwarisi ulama dari para Nabi itu adalah kewalian mereka. Menurutnya, dari sudut pandang tertentu, wali itu ada tiga macam. Pertama, wali yang mendapatkan ilmu dan makrifat dari Allah hanya untuk dirinya sendiri. Kedua, wali yang juga bertugas untuk berdakwah, mengajak umat kepada kebaikan. Ketiga, wali khalifah, wali yang berkuasa. Yang ketiga inilah wali yang tertinggi.
Demikianlah gambaran ideal seorang penguasa: nabi dan wali. Keduanya adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, bahkan dipilih-Nya, untuk menyampaikan pesan-pesan wahyu kepada manusia. Alangkah langkanya manusia semacam itu. Jika nabi dan wali adalah sosok relijius, maka ada pula sosok ideal seorang penguasa yang agak netral, yakni seorang filsuf yang menjadi raja (philosopher king). Dialah sosok penguasa bijaksana yang diimpikan oleh Plato.
Namun, sebagaimana nabi dan wali, filsuf yang menjadi penguasa itu pun amat langka. Sangat sulit mencari politisi yang berilmu dan berwawasan luas serta bijaksana. Karena itu, yang lebih mungkin adalah, seorang penguasa didampingi orang bijak yang menjadi penasihatnya. Dalam praktiknya, hubungan timbal balik penguasa dan penasihat ini ada yang baik, ada pula yang buruk. Tak jarang, si penasihat justru menjadi cap stempel yang mengesahkan berbagai keinginan si penguasa belaka.
Akhirnya, daripada tergantung pada kualitas orang perorang, lebih baik penguasa itu dikontrol dalam sebuah sistem. Kekuasaannya dan masa jabatannya dibatasi. Ada pembagian kekuasaan di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif. Para penguasa dipilih langsung oleh rakyat. Penguasa juga dikontrol oleh masyarakat, termasuk oleh media. Inilah demokrasi modern. Ternyata, tetap saja bermasalah. Suara rakyat, media bahkan hukum pun bisa dibeli oleh yang berduit. Yang lemah tetap kalah.
Jadi, bagaimana? Citra tentang seorang pemimpin selevel nabi, wali hingga filsuf tetaplah penting. Baik saat ingin menjadi penguasa, ataupun ingin memilih penguasa, karakter manusia terbaik dan bijak itu harus selalu hadir dalam imajinasi kita. Kita memang bukan nabi, wali atau filsuf, tetapi citra mereka adalah cermin bagi kita. Artinya, kita harus tetap berpikir memilih atau dipilih sebagai orang yang paling layak secara moral dan manajerial. Bukan asal membayar, apalagi asal-asalan.
Di sisi lain, manusia tetaplah manusia. Setiap orang punya potensi untuk baik atau buruk, adil atau zalim, jujur atau korup. Karena itu, pembatasan dan kontrol atas kekuasaan harus ada. Kita selalu perlu saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran. Inilah cara yang dapat membantu kita untuk tetap mempunyai harapan. Dunia bukanlah surga, bukan pula neraka. Tugas kita adalah terus-menerus berusaha memperbaiki yang rusak, menambah yang kurang dan menambal yang bolong.
Alhasil, karikatur politisi dan pelacur di atas bukanlah kenyataan mutlak, tetapi ia menyampaikan pesan tentang kenyataan yang harus diperbaiki. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)