Breaking News

Fikrah

Dipelihara Allah SWT

Sebagai kaum muslimin kita harus taat kepada perintah Allah SWT dan menjauhi segara larangannya termasuk seperti berzina

Editor: Irfani Rahman
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel


BANJARMASINPOST.CO.ID - TERSEBUTLAH di sebuah negeri seorang ahli ibadah, sebut saja Mahmud. Mahmud selalu melaksanakan salat fardhu lima waktu berjemaah di masjid. Bahkan dialah yang paling dahulu datang ke masjid, sehingga ia pulalah yang mengumandangkan azan.

Sunat qabliyah dan ba’diyah ia dirikan pula dengan rutin. Ia keluar dari masjid bila sudah selesai salat sunat israq dahulu, barulah sesudah itu ia bekerja.

Di malam hari ia datang pula ke masjid untuk bertahajjud. Dari mulutnya yang keluar hanyalah ucapan yang bernilai zikrullah dan kata-kata menyenangkan orang lain yang mendengar. Syukur dan sabar adalah jalan hidupnya.

Pada suatu hari dibulan Ramadan, ada seorang musafir yang tidak dikenal dari mana datangnya singgah di masjidnya. Orang itu ternyata beribadah lebih tekun daripadanya. Salat, zikir, membaca Al Qur’an  dan bahkan selalu sujud. Ia ikut berbuka di masjid, makan minumnya sedikit sekali. Ia juga sering menangis dalam sujudnya yang dalam dan lama. Suatu kali sesudah selesai berbuka, menanti kedatangan jemaah yang lain, ia pun masih menyempatkan diri bersujud sambil berurai air mata.

Mahmud pun heran akan ketekunan orang itu beribadah sehingga ia merasa iri dan ingin mengikutinya. Mahmud memberanikan diri untuk bertanya. Ternyata ia menjawab dengan ramah bahwa dirinya tidak letih sujud kepada Allah SWT karena pernah berbuat dosa, rasa penyesalan akan dosa itulah yang membuatnya mempunyai kekuatan luar biasa untuk sujud. Bahkan orang itu menyarankan kepada Mahmud untuk berbuat dosa supaya dapat bersujud kepada Allah SWT tanpa bosan dan letih.

Mahmud bertanya, “Dosa apa yang harus diperbuat?”.

Orang itu menjawab, “Berzina”.

Mahmud terperanjat mendengar keterangannya. Melihat Mahmud terperanjat, ia berkata, “Wahai saudara, anda berzina cukup satu kali saja, tidak usah sering kali”. Dia mengucapkan itu seraya memberikan uang kepada Mahmud untuk pergi berbuat zina.

Mahmud pun tergiur, bukan untuk menikmati perempuan lacur, tidak. Tetapi berniat untuk berbuat itu agar bisa bersujud kepada Allah SWT tanpa letih dan bosan.

Mahmud pun pergi menemui seorang pelacur terkenal cantik dan mahal. Si pelacur terperanjat, mengapa seorang ahli ibadah seperti Mahmud juga datang mengunjunginya. Dalam benaknya timbul pikiran, betapa rusaknya dunia ini sampai seorang ahli ibadah ingin berbuat zina. Dan sekiranya ia layani betapa besar dosanya menjerumuskan seorang ahli ibadah, menambah tumpukan dosa yang selama ini sudah dipikul dirinya.

Si pelacur itupun berkata, “Aku tidak bisa melayani anda. Aku hanya melayani orang-orang yang sesat. Pulanglah anda jangan terjerumus ke lembah zina, anda orang baik”.

Mahmud bersikeras minta dilayani dengan alasan bahwa ia berbuat sekali saja dan itu pun dikehendaki untuk dapat nantinya beribadah lebih baik lagi tanpa bosan dan letih. Si pelacur bertanya pula, “Siapakah yang mengajarkan anda seperti itu?”.

Mahmud pun menceritakan tentang datangnya seorang musafir yang singgah di masjidnya mengajarinya tentang hal itu. Mendengar hal itu si pelacur berkata, “Ustadz, kembalilah. Bila orang yang mengajarkan itu masih ada, silakan datang kembali dan saya akan melayani anda. Tetapi, bila anda tidak menemukannya lagi, maka orang itu tidak lain adalah iblis yang ingin menjerumuskan anda”.

Mahmud kembali ke masjidnya dan ternyata ia tidak menemukan lagi orang itu. Mahmud tersadar dan ia pun bersujud kepada Allah SWT untuk bersyukur karena terpelihara dari zina sambil menangis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved