Kolom
Tak Ada Usaha yang Sia-sia
Kita perlu usaha berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan hal yang maksimal, seperti mendaki gunung meski penat namun usai sampai puncak akan lega
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - “JIKA Anda mendaki gunung, bersusah payah menaiki jalan yang terjal, meninggi dengan berjalan kaki, pastilah Anda akan letih sekali. Namun, ketika Anda sampai di puncak, segala penat itu akan sirna. Anda merasa puas dan lega, berhasil mencapai puncak setelah berjuang sekuat tenaga.
Anda menikmati keindahan alam dari puncak itu dengan penuh syukur dan bahagia. Apa yang Anda rasakan itu, takkan sama dengan orang yang melihat keindahan alam hanya dengan naik helikopter atau pesawat terbang, karena perjuangannya tidak sama dengan perjuangan Anda.”
Itulah kurang lebih yang saya katakan saat Wisuda UIN Antasari bulan lalu. Maksud saya adalah ingin mengapresiasi keberhasilan wisudawan-wisudawati sekaligus memotivasi mereka dan diri saya sendiri.
Kalau kuliah di UIN Antasari, misalnya, Anda harus siap di tahun pertama untuk mengikuti kursus bahasa Inggris dan bahasa Arab tiap pagi, Senin hingga Sabtu, mulai jam 06.40. Kemudian, Anda wajib ikut pembinaan asrama selama 2 hingga 4 bulan. Setelah itu, Anda mengikuti semua mata kuliah wajib, praktikum, KKN ke kampung yang jauh hingga menulis skripsi. Berat bukan?
Namun, hidup memang begitu. Sesuatu yang bernilai tinggi takkan bisa didapat dengan berdiam diri. Orang harus berjuang sungguh-sungguh. Mengandalkan uang semata takkan bisa membuat Anda hebat. Dengan uang, Anda bisa membeli banyak buku, tetapi jika Anda tidak mempelajarinya, Anda tetap bodoh.
Anda bisa menggunakan kecerdasan buatan untuk mencari informasi, tetapi informasi itu takkan berguna jika Anda tak bisa memahaminya dengan baik. Apalagi jika Anda mengandalkan nasab saja. “Apakah jika orangtuamu makan dan kenyang, kau juga ikut kenyang?” olok al-Ghazali.
Dengan demikian, usaha atau perjuangan jauh lebih utama daripada hasil, meskipun orang seringkali hanya terpukau pada hasil. Banyak orang yang iri bahkan dengki dengan keberhasilan seseorang, tetapi sedikit orang yang mau menghargai dan ingin meniru perjuangannya. Inilah salah satu kelemahan manusia.
Dia terburu-buru, ingin serba cepat dan tidak sabaran. Akhirnya, dia mencari-cari jalan pintas, menerabas. Apapun dia lakukan, yang penting mudah dan cepat. Akibatnya, dia mencapai sesuatu yang sebenarnya tidak layak dicapainya. Dia bangga dengan kepalsuan belaka.
Di sisi lain, orang mungkin lebih mudah menghargai perjuangan jika akhirnya dia berhasil. Bagaimana jika dia gagal? Sebenarnya, setiap usaha manusia itu berharga, meskipun dia gagal mencapai yang diinginkannya. Setiap usaha dan perjuangan adalah ikhtiyar manusia untuk melakukan yang terbaik, yang bisa dia lakukan.
Sadar atau tidak, dalam proses perjuangan itu, dia telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh. Orang yang berjuang lalu gagal jauh lebih baik daripada yang tak pernah berjuang. Orang yang kalah lebih mulia daripada yang tak berani bertanding.
Selain itu, perhatian berlebihan pada hasil dapat membuat manusia angkuh jika sukses, dan putus asa jika gagal. Dua-duanya ekstrem dan berbahaya. Orang yang congkak saat berhasil cenderung akan hancur dalam jangka panjang karena dia akan buta pada kelemahan dan keterbatasan dirinya. Apalagi orang yang berputus asa. Ia akan kehilangan gairah hidup.
Baginya, “hidup hanya menunda kekalahan”, sementara kekalahan itu sudah pasti akan terjadi. Padahal, jika dia ingat betapa berat proses perjuangan yang dilewatinya, maka dia tidak akan sombong atau putus asa.
Secara keagamaan, sombong atau sebaliknya, putus asa, adalah akibat manusia tidak memahami posisi dan tugasnya di dunia ini. Berjuang mencapai tujuan adalah mengikuti hukum sebab-akibat dalam kehidupan. Hukum sebab-akibat itu tidak ada dengan sendirinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin-new.jpg)