Kolom
Transformasi Pembangunan Kesehatan Kota Banjarbaru
Hj Erna Lisa Halaby tampak gagasan besarnya untuk menggeser paradigma pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru, ini bentuk pemikirannya
Pemahaman baru terhadap konsep atau definisi kesehatan dan meningkatnya kesadaran akan faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat menimbulkan keyakinan bahwa pelayanan kesehatan kuratif saja tidak akan dapat menciptakan Indonesia sehat atau dalam konteks yang lebih kecil Kota Banjarbaru Sehat.
Pembangunan kesehatan diarahkan dapat meningkatkan mutu SDM dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat yang memberi prioritas pada upaya peningkatan kualitas kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut.
Keberhasilan pembangunan kesehatan diukur dengan meningkatnya kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Hal ini ditandai oleh sikap kritis masyarakat terhadap perkembangan pembangunan kesehatan. Demikian juga dengan tuntutan masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan pelayanan berkualitas dan terjangkau untuk semua.
Akhirnya, trasformasi pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru diarahkan untuk meningkatkan angka IPM Kota Banjarbaru. Dimana IPM merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kualitas hidup masyarakat di suatu negara atau daerah, khususnya Kota Banjarbaru.
Sejalan dengan data BPS tahun 2023, nilai IPM Kota Banjarbaru tahun 2022 sekitar 79,68 dengan umur harapan hidup sekitar 72,36 tahun. Umur harapan hidup berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat Kota Banjarbaru, dimana perkiraan usia rata-rata penduduk saat lahir mencapai sekitar 72,36 tahun.
Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lainnya di Kalsel, Umur Harapan Hidup (UHH) masyarakat Kota Banjarbaru sekitar 72,10 lebih tinggi dibandingkan Kota Banjarmasin pada tahun 2021 yang hanya 71,29. Bahkan UHH Kota Banjarbaru termasuk tertinggi di Kalsel, namun lebih rendah dibandingkan Yogyakarta sekitar 75,12 tahun 2023.
UHH dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Spesific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara tahunan sehingga dapat dibuat tabel kematian.
Penyelesaian masalah UHH rendah dilakukan melalui program pembangunan kesehatan, program sosial, kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori, serta program penanggulangan kemiskinan.
Sehingga dalam 5 tahun ke depan, transformasi pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru secara menyeluruh dilakukan menuju Banjarbaru Sehat dengan UHH lebih tinggi, yaitu setara dengan daerah lainnya di Pulau Jawa, seperti Kabupaten Pati, Wonogiri, Klaten dan lainnya yang UHH-nya di atas 76 tahun.
Tujuan utama program transformasi kesehatan Kota Banjarbaru adalah meningkatkan kualitas hidup dengan produktifitas penduduk lebih tinggi yang tercermin pada IPM Kota Banjarbaru yang sangat tinggi. IPM Kota Banjarbaru dalam 5 tahun ke depan setara dengan Kota Yogyakarta yang merupakan kota dengan IPM tertinggi di Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Syarkawi-Rauf-Member-of-Asean-Competition-Institute-ACI.jpg)