Opini

Paman Mundur, Citra atau Etika?

DALAM sebuah keputusan yang penuh kejutan, Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor—atau yang akrab dikenal sebagai Paman Birin—memilih untuk

Tayang:
Editor: Edi Nugroho
Dokumentasi Banjarmasinpost.co.id
MS Shiddiq Pemerhati Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik, Peneliti Senior CIDES Institute 

Selain itu, pengunduran diri ini berisiko menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan lokal. Saat seorang pejabat tinggi mengundurkan diri di tengah isu hukum yang belum sepenuhnya tuntas, wajar jika publik mempertanyakan apakah keputusan ini murni demi menjaga etika atau hanya strategi agar bisa meredam perhatian publik. 

Dalam konteks politik hukum, keputusan ini mencerminkan dilema besar yang sering dihadapi oleh pejabat publik di Indonesia: antara mempertahankan posisi dan menghadapi sorotan hukum atau mengambil jalan mundur untuk menjaga citra.

Namun, di balik semua ini, perlu diingat bahwa politik adalah arena penuh strategi, di mana setiap tindakan dapat memiliki makna tersembunyi. Keputusan Paman Birin mundur dari jabatan sebagai orang nomor satu di Bumi Lambung Mangkurat mungkin saja merupakan hasil perhitungan politik yang cermat, terutama di tengah persaingan politik yang semakin ketat dalam Pilkada serentak. 


Sebuah keputusan yang bisa jadi dirancang bukan hanya demi memulihkan citra pribadi, tetapi juga untuk menjaga peluang bagi keluarga atau jaringan politiknya agar tetap memiliki posisi yang kuat dalam pemerintahan Kalsel.

Tentu, tak dapat disangkal bahwa bagi sebagian kalangan, pengunduran diri Paman Birin dianggap sebagai langkah etis yang patut diapresiasi. Namun, dalam dunia politik, kejujuran niat sering kali menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan, apalagi diukur. Masyarakat hanya bisa berharap bahwa apa pun alasan di balik langkah ini, kepentingan daerah tetap diutamakan dan tidak semata-mata terjebak pada kepentingan personal atau kelompok tertentu.

Kita juga perlu menyoroti bagaimana langkah ini memengaruhi peta politik di Kalimantan Selatan. Di satu sisi, pengunduran diri ini mungkin menciptakan celah bagi figur politik baru untuk muncul dan mengambil alih kepemimpinan. 

Namun di sisi lain, penunjukan pejabat sementara berpotensi memunculkan tantangan dalam menjamin kelangsungan program pemerintah, terutama jika pejabat baru tidak sepenuhnya memahami kebijakan dan prioritas yang telah direncanakan oleh Paman Birin.

Langkah ini sekaligus membuka pintu bagi pengamat politik untuk mempertanyakan arah kebijakan dan prioritas pemerintahan Kalsel di masa mendatang. Sebagai pemimpin yang telah dua periode menjabat, Paman Birin tentunya telah membangun pengaruh yang besar, dan ini mungkin akan terus menjadi bagian penting dalam peta politik lokal meskipun ia kini berada di luar jabatan resmi.

Pada akhirnya, publik mungkin tidak pernah benar-benar tahu motif sebenarnya di balik pengunduran diri ini. Apakah ini benar-benar tindakan etis seorang pemimpin yang berjiwa besar, ataukah hanya strategi citra untuk membangun kembali reputasi yang sempat terguncang? 

Di tengah drama politik ini satu hal yang pasti, keputusan tersebut akan dikenang sebagai bagian dari perjalanan politik yang penuh warna di Bumi Lambung Mangkurat. Panggung politik Kalsel kini mungkin akan dihiasi oleh aktor-aktor baru, namun bayangan Paman Birin dan drama yang ia tinggalkan akan terus membekas dalam ingatan publik.

Pada akhirnya, masyarakat Kalsel hanya bisa menunggu dan mengamati bagaimana transisi ini akan berdampak pada masa depan daerah mereka. Kepemimpinan baru mungkin akan hadir, tetapi pengaruh Paman Birin—dengan segala citra dan kontroversinya—akan tetap menjadi bagian dari lanskap politik Kalsel untuk waktu yang lama. (*)

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved