Tajuk

Peluang dan Tantangan BRICS

Terbaru Indonesia akhirnya gabung dengan BRICS (blok ekonomi berkembang yang dipandang sebagai penyeimbang negara-negara Barat)

Editor: Irfani Rahman
Pavel Golovkin / POOL / AFP
Presiden China Xi Jinping (kiri), Presiden Rusia Vladimir Putin (kedua dari kiri), Presiden Brasil Jair Bolsonaro (tengah), Perdana Menteri India Narendra Modi (kedua dari kanan), dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa (kanan) menghadiri pertemuan dengan anggota Dewan Bisnis dan manajemen Bank Pembangunan Baru selama KTT BRICS di Brasilia, 14 November 2019. - BRICS diprediksi akan menyalip ekonomi negara-negara G7 hingga 32,1 persen dari perekonomian dunia. Indonesia saat ini resmi gabung BRICS 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Indonesia secara resmi telah bergabung menjadi anggota BRICS (blok ekonomi berkembang yang dipandang sebagai penyeimbang negara-negara Barat). Hal itu sebagaimana pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Brasil yang mengumumkan Indonesia jadi anggota penuh BRICS.

Kemenlu Brasil mengatakan, negara terpadat di Asia Tenggara itu bersama dengan anggota lainnya memiliki keinginan untuk mereformasi lembaga tata kelola global dan berkontribusi positif terhadap kerja sama di negara-negara berkembang. Kemenlu RI pun sudah memberikan statmen dan menyambut baik keanggotaan tersebut.  

Keangotaan BRICS ini tentunya membawa peluang, sekaligus tantangan baru bagi Indonesia yang memiliki politik luar negeri bebas aktif.  

Di satu sisi, BRICS mempromosikan solidaritas dan kerja sama Dunia Selatan dan kekuatan utama yang mendorong reformasi sistem tata kelola global. BRICS menawarkan peluang untuk berhubungan dengan pasar negara berkembang yang terus tumbuh kuat seperti Cina dan India. Perdagangan dengan negara-negara tersebut terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Namun di sisi lain, upaya BRICS mengurangi ketergantungan pada dollar AS (dedolarisasi) dalam perdagangan dan keuangan internasional, tetap menjadi inti dari ketegangan antara BRICS dan Barat.

Bahkan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 100 persen pada negara-negara yang tergabung dalam aliansi BRICS jika mereka melemahkan dollar AS.

Peringatan ini jelas perlu diwaspadai Indonesia. Selain Amerika merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, pengaruhnya terhadap ekonomi global tak bisa diabaikan.

Secara hitam putih bisa dilihat dari kacamata tarif dan ekspor-impor Indonesia ke depan, berapa potensi komoditas kita yang akan terpengaruh bila benar-benar Trump memberlakukan hal tersebut. Selain itu, dengan masuknya Indonesia ke dalam BRICS bakal menyangkut strategi nasional dan posisi geopolitik Indonesia di panggung dunia.

Posisi Rusia, sebagai deklarator BRICS, yang saat ini terlibat perang dengan Ukraina, jelas secara ekonomi tidak menguntungkan Indonesia.

Kemudian negara besar lain di BRICS, yaitu Cina yang sebenarnya juga belum clear atas sejumlah sengketa territorial dengan Indonesia, di Laut Natuna Utara (Laut Cina Selatan).

Kini, keanggotaan sudah didapat, tinggal bagaimana keahlian Indonesia (dan tentunya para pemimpinnya) bermanuver di tengah persaingan antarkekuatan global yang semakin kompleks akan menentukan peranannya di masa depan.

Arah kebijakan politik luar negeri dan ekonomi ke depan di tataran global juga akan ditentukan hari ini. Akankah kita terjebak dalam perang antara BRICS dengan Barat, atau justru Indonesia bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan ekonominya?(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved