Jendela
Karakter Dua Mantan Rektor
SUATU hari, medio November 2024 lalu, dalam perjalanan sekitar dua jam, saya duduk berdampingan dengan seorang teman yang kini menjabat sebagai
SUATU hari, medio November 2024 lalu, dalam perjalanan sekitar dua jam, saya duduk berdampingan dengan seorang teman yang kini menjabat sebagai rektor sebuah universitas internasional. Dia mengenal sangat dekat dua mantan rektor di kampus asalnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk bertanya padanya mengenai karakter dua mantan rektor tersebut sebagai cermin dan pelajaran bagi saya. Kami pun asyik berbincang hingga tak terasa bus kami sampai ke tujuan.
Tokoh pertama berinisial A. Menurut teman tadi, A adalah tipikal akademisi yang hidup amat disiplin, mandiri dan sederhana. Hidupnya sangat teratur. Malam cepat tidur, bangun dini hari, lalu salat tahajud. Setelah itu, kadang dia menonton bola di televisi hingga Salat Subuh tiba. Usai Subuh, dia menulis makalah atau esai untuk media. Jam 06.00, dia sarapan. Jam 06.30, berangkat ke kantor. Jam 07.00 hingga 08.00, melayani mahasiswa yang konsultasi. Setelah itu, dia melaksanakan tugas-tugas sebagai rektor seperti rapat, sambutan, menerima tamu, atau menghadiri acara di luar.
A adalah pribadi mandiri dan sederhana. Pengalaman hidupnya sebagai perantau membuatnya selalu berusaha mengatasi masalah pribadi secara mandiri. Dia membuat kopi sendiri, mengambil makanan sendiri, dan mencuci piring sendiri. Jika kancing bajunya lepas, dia menjahitnya sendiri. Kalau sakit, dia tidak mau memberitahu anak-anaknya, termasuk istrinya. Dia pergi memeriksa kesehatan sendiri, dan hasilnya disimpan sendiri. Pernah anak-istrinya terkejut mengetahui bahwa dia sudah masuk rumah sakit. Kawan-kawannya juga tak diberitahu kala dia dirawat inap.
Sebagai seorang ilmuwan, A cenderung tampil sederhana. Kadangkala jas yang dipakainya tampak kebesaran dari ukuran badannya. Pernah juga dia memakai baju batik yang sama dalam beberapa hari. Ketika ditanya, dia dengan polos menjelaskan, “Ini bukan baju saya yang kemarin. Saya memiliki lima buah baju batik dengan motif dan warna yang sama.” Sebagian temannya khawatir soal penampilan ini, terutama karena dia adalah rektor yang mewakili kampus. Mereka pun mengajaknya membuat jas ke penjahit profesional. Sejak itu, A memiliki jas yang pas dan pantas.
Baca juga: Masih Ada Celah
Baca juga: Wali Kota Banjarmasin Klaim Dapat izin Muhidin Buang Sampah di TPA Banjarbakula Sampai Pukul 22.00
Di balik kesederhanaannya, A adalah akademisi yang serius. Dia banyak membaca dan menulis. Gagasan-gagasannya seringkali segar, dan ceramahnya padat berisi. Dia memiliki reputasi nasional dan internasional. Dengan pengaruhnya itulah, dia dihormati kalangan elit. Reputasinya itu dapat dimanfaatkannya dengan baik. Dia melakukan lobi-lobi untuk kepentingan kampusnya kepada pihak-pihak terkait. Wataknya yang blak-blakan memang terkesan kurang diplomatis, tetapi justru gayanya itu membuat setiap negosiasi yang dilakukannya berujung pada kesimpulan yang tegas.
Mantan rektor kedua berinisial K. Sama dengan A, K adalah seorang penulis dan pemikir. K lebih dikenal sebagai pemikir filosofis, yang pemikirannya bersifat umum, kurang berbasis pada kajian-kajian empiris. Namun, K juga seorang penceramah populer, khususnya di kalangan elit. Dia adalah pembicara yang memukau, kadangkala diselingi humor-humor segar. K pandai membuat analogi, contoh, dan ilustrasi bagi ide-ide yang disampaikannya sehingga mudah dipahami orang lain. Kalangan elit sering mengundangnya untuk mengisi ceramah walimah nikah atau slametan lainnya.
Kelebihan K lainnya adalah pergaulannya yang luas. Temannya bukan hanya kaum akademisi, tetapi juga kalangan elit nasional seperti para pejabat, politisi, pengusaha, bankir dan lain-lain. Dia sangat pandai menyesuaikan diri dengan mereka. Seperti mereka, dia berpakaian rapi, mahal, dan necis. Dia tahu di mana restoran yang enak dan disukai kaum elit. Dia juga tahu di mana penjahit jas terbaik. Pergaulannya dengan kaum elit itu bukan terutama melalui seminar, tetapi di lapangan golf atau tempat informal lainnya. Di situlah dia lincah melakukan lobi-lobi kelas tinggi.
Cerita tentang dua mantan rektor di atas sungguh mengesankan saya. Mereka adalah dua pemimpin dengan karakter yang berbeda. A yang sederhana bukan berarti lebih baik daripada K yang tampil elegan, atau sebaliknya. Jika A menggunakan reputasi akademiknya untuk bernegosiasi dengan pihak-pihak terkait untuk kepentingan kampus, maka K menggunakan keterampilannya mendekati mereka dalam kegiatan-kegiatan informal seperti main golf. Bahkan bisa dikatakan, mereka berhasil menjadi rektor antara lain karena kelebihan masing-masing itu.
Bagi sebagian orang, A mungkin dikategorikan sebagai rektor “akademisi”, sedangkan K adalah rektor “politisi”. Bagi saya, dua kategori ini kurang tepat karena tak mungkin seorang rektor itu tak berpolitik. Bagaimanapun, jabatan rektor itu politis. Begitu pula, tak mungkin seorang rektor bukan akademisi, karena syaratnya minimal berpendidikan S-3, bahkan profesor. Namun, mereka jelas bukan “rektor politisi” jika yang dimaksud adalah orang yang berhasil menjadi rektor terutama karena identitas kelompok, main sogok, menjilat atasan, hingga menebar fitnah dan adu domba.
Terlepas dari karakter dan gaya mereka yang berbeda, keduanya berperan sebagai intelektual publik. Mereka adalah cendekiawan yang berani berbicara dan menulis menanggapi isu-isu publik sesuai dengan pandangan ilmiah dan moral yang mereka yakini. Keduanya konsisten menjaga independensi dan integritas. Karena itu, di bawah kepemimpinan mereka, marwah ilmiah dan wibawa moral kampus tetap terjaga di mata masyarakat. Saya salut kepada dua tokoh ini! (*)
Terlepas dari karakter dan gaya mereka yang berbeda, keduanya berperan sebagai intelektual publik. Mereka adalah cendekiawan yang berani berbicara dan menulis menanggapi isu-isu publik sesuai dengan pandangan ilmiah dan moral yang mereka yakini. Keduanya konsisten menjaga independensi dan integritas. Karena itu, di bawah kepemimpinan mereka, marwah ilmiah dan wibawa moral kampus tetap terjaga di mata masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin3.jpg)