Kolom
Haji Zaman Dulu
Adalah ibadah haji yang melibatkan sangat banyak orang, tentu saja banyak cerita suka dan duka, indah dan gundah, yang telah dialami, dikenang
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - IBADAH haji, sebagai rukun Islam yang kelima, merupakan ibadah tahunan umat Islam sedunia. Sebagai ibadah yang melibatkan sangat banyak orang, tentu saja banyak cerita suka dan duka, indah dan gundah, yang telah dialami, dikenang, dan dicatat, dari masa ke masa.
Seorang sarjana Perancis, Henri Chambert-Loir (2013), telah mengumpulkan berbagai kisah orang Indonesia naik haji dari 1482 sampai 1964 dalam tiga jilid buku, total 1272 halaman. Di sini saya ingin mengutip sebagian dari kisah HAMKA (1908-1981) dan Rosihan Anwar (1922-2011) dalam buku tersebut.
Pada 1950, HAMKA memimpin 970 orang jemaah haji Indonesia dengan naik kapal laut selama 20 hari. Saat di kapal, dia mencatat: “Rakyat kampung yang tidak mengenal kebersihan naik ke dalam kapal. Sedang di darat , kebersihan itulah yang belum mereka kenal…Sebab itu, setelah masuk ke dalam kapal, dia pun membuang kotoran, kencing, bahkan kadang-kadang berak, di tempat yang bukan berak, padahal kakus ada. Di pasang tulisan, dinyatakan bahwa ini kakus, ini kamar mandi, dia tidak pandai membaca. Atau kalau dibacanya, belumlah sampai ke dalam jiwanya…” (h. 767).
Saat berhaji pada 1957, Rosihan Anwar menulis: “Mekkah mempunyai bau istimewa. Bau itu menusuk ke dalam bulu-bulu hidung, mengejar dan hinggap di badan kita…Yang spesifik pada bau itu ialah bau faeces atau kotoran manusia yang telah mengering.
Dari rumah-rumah tua keluar bau pengap. Tubuh manusia yang tidak lazim berkenalan dengan air punya bau khas. Bau kerosene atau minyak tanah yang keluar dari kompor-kompor masak, kemudian bau hooga yaitu alat hisap yang aslinya berasal dari India, semua menebarkan bau, masing-masing sendiri dan dalam kombinasi bersama, yang membikin perut mual” (h. 984).
Catatan tentang cuaca panas di Arab Saudi juga tak luput dari perhatian dua penulis tadi. HAMKA menulis bahwa “panasnya laksana memecah kepala dan menjadikan benak menggelegak” (h.98). Dokter mengingatkan jemaah, kata HAMKA, kalau mau keluar hendaklah pagi-lagi sekali, dan segera pulang sebelum jam 8 atau 9, dan sore jam 4 atau malam.
Ada jemaah yang memaksa diri naik ke Jabal Nur di siang hari terik, akhirnya mati di sana (h. 790). Namun, HAMKA juga mengalami badai es saat berada di Arafat, yang membuat jemaah menggigil kedinginan setelah kepanasan (h. 804).
Soal udara panas ini, Rosihan menceritakan: “Saya susah tidur karena panasnya hawa. Berkali-kali saya ke kamar mandi, mengambil segayung air untuk saya siramkan ke bantal saya dengan harapan dia menjadi sejuk dan dingin sehingga saya bisa tidur.
Tetapi karena udara panas di dalam ruangan, dalam waktu sekejap bantal saya menjadi mersik dan panas kembali” (h. 982). Rosihan menjelaskan, kamarnya tidak besar, tetapi diisi oleh 10 orang, lelaki-perempuan bercampur. Akhirnya dia tidur di bangku di luar rumah, “di tengah debu dan keledai” hingga dia terkena bronkhitis (h.987).
Hal lain yang diperhatikan HAMKA adalah keinginan sebagian jemaah haji Indonesia untuk mati di tanah suci Mekkah. HAMKA menulis mengomentari hal ini dengan kritis: “Mati di Mekkah pun, kalau tidak membawa amal, tidak hidup bertakwa, tidak berapa kurang dari Abu Lahab, yang mati di Mekkah juga”.
Katanya lagi, “Walaupun di Mekkah, namun kalau hatimu kesat sebagai batu, tidak akan ada faedah Mekkah bagi dirimu. Saya lihat, kucing hidup di Mekkah, tetap kucing juga. Walaupun misalnya dia dibawa ke Arafat tujuh kali haji” (h. 832).
Pada 1950 itu, kita baru lima tahun merdeka. Kita membayangkan dapat merdeka dari penjajahan asing dan feodalisme lokal. Karena itu, HAMKA tidak suka mendengar sanjungan dan pujian setinggi langit terhadap Raja Saudi, Ibnu Saud, yang disampaikan oleh para wakil berbagai negara saat itu.
Katanya, “Dan kita belum pernah mengucapkan kata-kata, menjunjung begitu kepada presiden sendiri. Dan pujian yang berlebih-lebihan tidak pula disukai oleh Bung Karno, atau masyarakat sudah lama meninggalkan zaman demikian. Tanah kita tidak lagi tanah feodal.” (h.796).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin3.jpg)