Tajuk

Efisiensi Demi Pendidikan

Saat tahun ajaran baru 2025-2026, setiap siswa pastinya berharap mendapatkan pengalaman terbaik saat menginjakkan kaki di sekolah

Editor: Irfani Rahman
BPost Group
SEKOLAH RUSAK (ILUSTRASI) - Siswa tetap semangat belajar meski ruang kelas rusak 

BANJARMASINPOST.CO.ID - MEMASUKI tahun ajaran baru 2025-2026, setiap siswa pastinya berharap mendapatkan pengalaman terbaik saat menginjakkan kaki di sekolah mereka yang baru.

Fasilitas kelas yang nyaman, meja kursi yang baik, ruangan yang bersih serta dilengkapi fasilitas pendingin ruangan seperti kipas angin atau bila perlu Air Conditioner (AC). Fasilitas pendukung, seperti ruang laboratorium, fasilitas olahraga, ruang UKS, Wifi hingga toilet juga menjadi fasilitas yang mereka ingin rasakan.

Namun, apa jadinya jika siswa menghadapi kenyataan belajar di ruang kelas yang rusak, meja kursi reyot serta minim fasilitas pendukung. Tentu kondisi serba terbatas ini membuat semangat menggebu siswa saat memulai tahun ajaran baru, bisa seketika drop. Fokus untuk mengikuti proses belajar mengajar pun pastinya juga terganggu.

Begitulah pastinya yang dirasakan para siswa di Kalsel yang kini terpaksa harus menempati kelas mereka yang rusak dan minim fasilitas. Sebagaimana diungkapkan Kepala Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMB) Kalsel Yuli Haryanto sedikitnya ada 800 sekolah di Kalimantan Selatan yang dilaporkan mengalami kerusakan.

Baca juga: Kisah Joki Skipsi di Banjarmasin, Sebut Tuntutan Akademik dan Jalan Pintas Jadi Pemicu

Baca juga: Kala Pembuatan Skripsi Dipromosikan di Medsos, Joki Mengaku Tim Tiga Kampus Terbaik Kalsel

Yuli Haryanto saat berdiskusi dengan mahasiswa dan pegiat pendidikan di Banjarmasin, Selasa (15/7) menyebut kerusakan terjadi di berbagai tingkat satuan pendidikan dan sifatnya bervariasi. Mulai dari atap roboh, lantai amblas, hingga unit sekolah baru yang tidak layak pakai.

Sementara, dari jumlah tersebut, hanya 207 sekolah yang dipastikan mendapat anggaran revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2025. Selebihnya menunggu kucuran dana tahap selanjutnya.

Yuli menekankan perlunya dukungan pemerintah kabupaten, kota dan provinsi untuk mempercepat perbaikan. Karena penanganan infrastruktur pendidikan tidak bisa bergantung sepenuhnya ke pusat.

Pesan Kepala BPMB Kalsel terkait dengan kondisi sekolah ini diharapkan benar-benar dipahami oleh seluruh jajaran pemerintahan dari provinsi hingga kabupaten kota. Inilah saatnya, mereka benar-benar melakukan efisiensi demi penanganan infrastruktur sekolah rusak didaerahnya masing-masing.

Efisiensi bisa dilakukan dengan melakukan optimalisasi penganggaran dan perencanaan, penerapan teknologi informasi, sinergi antarinstansi, pengawasan dan akuntabilitas yang ketat, serta evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Kegiatan tak perlu seperti seperti kunjungan keluar daerah serta rapat-rapat di hotel bila perlu ditiadakan. Demi percepatan perbaikan sarana infrastruktur sektor pendidikan perlu sedikit pengorbanan. Ini sudah dilakukan oleh Presiden Prabowo yang melakukan efisiensi untuk melaksanakan kebijakan seperti makan bergizi gratis termasuk sekolah rakyat. (*)
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved