Fikrah
Dukun dan Para Pendusta
Nabi SAW diutus sebagai rasul, beliau datang di tengah masyarakat dan menemukan sekelompok pembohong yang dikenal dengan sebutan dukun atau peramal
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - KETIKA Nabi SAW diutus sebagai rasul, beliau datang di tengah masyarakat dan menemukan sekelompok pembohong yang dikenal dengan sebutan dukun atau peramal. Mereka mendakwakan bahwa dirinya mengenal perkara-perkara gaib, baik yang terjadi dimasa lalu atau akan datang, dengan cara menjalin hubungan dengan jin atau semisalnya.
Seketika itu juga Rasulullah SAW mengumumkan perang terhadap kebohongan yang tidak didasari ilmu, petunjuk maupun kitab yang memberi cahaya. Beliau membacakan ayat yang telah diturunkan Allah SWT kepadanya yang artinya: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah…” (QS. An-Naml 65).
Tidak malaikat, tidak jin dan tidak pula manusia; Rasulullah SAW menjelaskan tentang dirinya dengan wahyu Allah SWT yang artinya: “…dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raf 188).
Diriwayatkan pula, beberapa orang utusan datang menemui Rasulullah SAW. Mereka ini yakin bahwa beliau termasuk orang yang dapat mengetahui perkara gaib. Kemudian mereka menyembunyikan sesuatu di tangan dan berkata, “Tahukah tuan, apa ini?”
Beliau menjawab dengan terus terang: “Aku bukan seorang dukun, dan sesungguhnya dukun, perdukunan, dan para tukang ramal tempatnya di neraka”.
Allah SWT menginformasikan pula bahwa jin yang berada kekuasaan Sulaiman AS juga tidak mengetahui apa-apa, mereka tidak mengetahui kalau Sulaiman AS telah wafat, sehingga mereka tetap bekerja di hadapan beliau. Allah SWT berfirman yang artinya: “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.
Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’ 14).
Kita dapat menarik kesimpulan bahwa barang siapa yang mengaku bahwa dirinya mengetahui yang gaib, berarti ia berdusta kepada Allah, kepada kenyataan dan kepada umat manusia.
Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tidak hanya membicarakan tentang para dukun dan para pendusta; namun juga semua orang yang mendatangi mereka, bertanya kepada mereka dan membenarkan ramalan mereka. Rasulullah SAW bersabda : “Man ata arrafan fasa’alahu an syai’in lam tuqbal lahu shalatun arba’ina lailatan.” Artinya: “Barang siapa yang mendatangi peramal, lalu bertanya kepadanya dan membenarkan apa yang dikatakanya, maka tidak diterima salatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim).
Di dalam hadits yang lain rasul berkata bahwa orang yang mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, ia telah mengingkari wahyu yang diturunkan kepada Muhammad. (HR. Al-Bazzar).
Demikianlah, wahyu yang diturunkan kepada Nabi SAW menyatakan bahwa perkara gaib hanyalah milik Allah SWT; kalau Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mengetahuinya, apalagi yang lain. (Tulisan ini diangkat dari buku “Al-Halal wal Haram fi Al-Islam” oleh Syeikh Yusuf Al-Qardhawi).
Menjelang pemilu, di antara para caleg sering kasak-kusuk kesana-kemari mencari “orang yang dikatakan pintar” untuk meramalkan dirinya, apakah akan sukses atau tidak, calon jadi ataukah hanya penggembira, yang pasti semua mereka dan semua kita adalah “camat” (calon mati). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/KH-Husin-Naparin-Lc-MA-Ketua-MUI-Provinsi-Kalsel.jpg)