Kolom
Korupsi, Es Melon dan Dewa-Dewi
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer tersandung kasus korupi, ia ditangkap oleh KPK beberapa waktu lalu
Sangat masuk akal jika dia ingin kembali modal dan mendapatkan untung berlipat. Hal ini diperparah lagi oleh sisa-sisa budaya feodal yang masih amat terasa di masyarakat kita, seperti penghormatan dan pelayanan yang berlebihan kepada pejabat dan keluarganya. Tak sedikit orang diam-diam ingin “dirajakan” atau “diratukan” seperti itu.
Masalah mental feodal di atas, termasuk budaya upeti dan setoran di dalamnya, jelas tidak berdiri sendiri atau berasal dari si pejabat saja. Bawahan juga turut menyuburkannya. Boleh jadi, hal ini sudah menjadi budaya dalam lingkungan birokrasi.
Bawahan tertunduk-tunduk hormat, menyiapkan segala macam layanan, agar si bos senang. Si bawahan berharap akan diangkat naik jabatan, atau paling kurang tidak digeser dari posisi sekarang. Akibatnya, terbentuklah persekongkolan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Prestasi, kompetensi, dan integritas, akhirnya tak penting lagi.
Bagaimanakah mendobrak keburukan ini? Yang paling efektif adalah dimulai dari para pemimpinnya. Hirarki dalam birokrasi akan sangat membantu upaya bersih-bersih, jika dilakukan sungguh-sungguh oleh para pemimpin. Upaya ini memang tidak akan benar-benar efektif jika hanya dilakukan oleh si pemimpin puncak.
Dia harus pula didukung oleh para pemimpin di bawahnya, paling kurang hingga eselon 2 atau 3. Jika si pemimpin puncak tak didukung para pemimpin di bawahnya, lambat laun dia sendiri yang akan terjungkal. Mereka diam-diam akan bersekongkol menjatuhkan sang atasan.
“Biasakanlah yang benar. Jangan membenarkan yang biasa,” kata seorang pejabat kepada anak buahnya. Ungkapannya itu adalah suatu sindiran yang keras agar semua orang meninggalkan budaya korupsi yang telah berakar kuat. Si pejabat, jika dia benar-benar memiliki integritas, maka akan menghadapi banyak tantangan dan godaan.
Tantangan adalah perlawanan dari orang-orang yang selama ini menikmati korupsi, dari bawah, samping, hingga atasannya. Godaan adalah tawaran berupa uang, barang mewah, fasilitas, dan berbagai kenikmatan duniawi lainnya.
Alhasil, bersikap jujur, berintegritas, satu kata dengan perbuatan, memang tidak semudah mengatakannya dan menuliskannya. Ia membutuhkan komitmen, keteguhan moral, dan konsistensi, yakni istiqamah berada di jalur yang baik dan benar.
Inilah fondasi utama perjuangan memberantas korupsi. Bahkan, penindakan hukum terhadap para koruptor takkan berjalan mulus tanpa keteguhan moral ini. Kasus IEG hanyalah satu dari ribuan kasus yang bisa menjadi cermin bagi kita semua. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin7.jpg)