Kolom

CDIO Jalan Baru Pendidikan Tinggi

Saat ini dunia pendidikan tinggi Indonesia berada di persimpangan besar. Dunia bergerak cepat menuju ekonomi berbasis pengetahuan

Editor: Irfani Rahman
Istimewa
Syaifullah, M.Pd, Dosen FKIP Bahasa Indonesia Universitas Lambung Mangkurat 

Syaifullah, M.Pd

Dosen FKIP ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID- PENDIDIKAN tinggi Indonesia berada di persimpangan besar. Dunia bergerak cepat menuju ekonomi berbasis pengetahuan, sementara kampus di tanah air masih berkutat dengan masalah klasik kualitas lulusan yang belum merata, kurikulum yang kaku, jumlah dosen bergelar doktor yang terbatas, dan riset yang jarang melahirkan paten maupun produk nyata. Akibatnya, banyak lulusan belum siap menghadapi dunia kerja.

Ironisnya, perusahaan masih harus menanggung biaya pelatihan dasar untuk para fresh graduate, seolah-olah kampus belum menjalankan tugas utamanya menyiapkan tenaga kerja siap pakai sekaligus inovator bangsa. Kesenjangan itu makin terasa ketika kita melihat fragmentasi tata kelola data pendidikan tinggi, lemahnya integritas akademik di era kecerdasan buatan, serta minimnya investasi dalam laboratorium modern, teaching factory, dan ruang kolaborasi digital.

Semua ini memperlebar jarak antara ruang kelas dan realitas industri. Jika situasi ini terus dibiarkan, perguruan tinggi berisiko menjadi menara gading sibuk dengan laporan administratif dan publikasi ilmiah, tetapi abai terhadap kebutuhan nyata masyarakat dan ekonomi nasional.

Transformasi pendidikan tinggi karena itu bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis. Ada empat tekanan besar yang membuat perubahan tak bisa ditunda. Pertama, pergeseran menuju ekonomi berbasis pengetahuan.

Peringkat Indonesia di indeks inovasi global memang meningkat, tetapi ekosistem riset kita masih rapuh. Tanpa penguatan di hulu jumlah dosen S-3, budaya ilmiah, fasilitas riset dan hilir komersialisasi riset, perlindungan HKI, transfer teknologi pertumbuhan berbasis iptek akan berhenti pada jargon.

Kedua, kompetisi talenta di kawasan. Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, hingga Vietnam bergerak lebih cepat menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri. Mereka menumbuhkan riset kolaboratif lintas universitas dan mengarahkan hasil penelitian agar masuk langsung ke sektor produktif. Jika Indonesia tetap sporadis, lulusan kita akan tertinggal dalam kompetisi regional yang kian ketat.

Ketiga, kebutuhan industri semakin kompleks. Analytical thinking, kreativitas, dan kemampuan berinovasi menjadi kompetensi inti. Namun faktanya, banyak lulusan belum job-ready apalagi innovation-ready. Kurikulum, pedagogi, dan asesmen di kampus masih jauh dari optimal dalam melatih keterampilan ini.

Keempat, hambatan struktural riset dan hilirisasi. Rendahnya investasi R&D membuat jumlah paten kita tipis dibanding negara lain. Triple helix sinergi akademisi, industri, dan pemerintah yang seharusnya menjadi motor inovasi masih berjalan setengah hati. Banyak riset berhenti di jurnal tanpa pernah menyeberang menjadi prototipe, uji coba industri, kontrak layanan, apalagi spin-off.

Di tengah tantangan itu, ada satu pendekatan yang menjanjikan CDIO (Conceive Design Implement Operate). Kerangka pendidikan yang dikembangkan bersama MIT ini mendekatkan pengalaman belajar mahasiswa dengan siklus nyata industri.

Mahasiswa tidak sekadar menerima teori, tetapi diajak melewati siklus lengkap merumuskan ide, merancang, mengimplementasikan, hingga mengoperasikan solusi dalam konteks nyata. Dengan pendekatan ini, lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga terampil menyelesaikan persoalan riil.

Kekuatan CDIO terletak pada kemampuannya menumbuhkan keterampilan abad ke-21 problem solving, berpikir sistemik, komunikasi efektif, kolaborasi lintas disiplin, dan inovasi. Bahkan, CDIO mampu mendorong riset terapan agar tidak berhenti pada publikasi, melainkan menghasilkan prototipe, paten, maupun spin-off yang memberi dampak nyata bagi industri dan masyarakat.

Politeknik Negeri Batam (Polibatam) adalah salah satu pelopor penerapan CDIO di Indonesia. Setiap semester, mahasiswa di sana ditantang mengerjakan proyek autentik, banyak di antaranya berasal dari dunia industri. Hasilnya terlihat jelas. Sekitar 70 persen lulusan Polibatam dalam lima tahun terakhir sudah memperoleh pekerjaan minimal tiga bulan sebelum wisuda.

Setiap semester lahir lebih dari 500 produk teknologi mahasiswa, sebagian menjuarai ajang nasional dan internasional. Dalam lima tahun, tercatat lebih dari 3.000 luaran penelitian dengan orientasi terapan. Kepercayaan dunia usaha pun meningkat, terbukti dari banyaknya proyek kolaborasi yang melibatkan industri sejak tahap perancangan hingga uji coba. Namun, praktik baik ini masih terbatas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved