Jendela
Sewindu Telah Berlalu
DELAPAN tahun silam, 13 Oktober 2017, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, melantik saya sebagai Rektor UIN Antasari \
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
DELAPAN tahun silam, 13 Oktober 2017, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, melantik saya sebagai Rektor UIN Antasari Banjarmasin periode pertama. Empat tahun kemudian, di tanggal yang sama, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, melantik saya kembali menjadi rektor untuk periode kedua. Jadi, tepat hari ini, masa jabatan saya sudah purna. Kita menunggu pelantikan rektor baru.
Sewindu telah berlalu. Tertalu banyak kerja yang telah dilaksanakan jika ingin dituliskan satu per satu. Pada sore Jumat lalu, 10 Oktober 2025, menandai akhir tugas saya, kami mengadakan “Momen Apresiasi Rektor kepada Jajaran Pimpinan di Akhir Masa Jabatan”. Pada momen itu, saya menyapa satu per satu pimpinan yang hadir, dan menyebutkan kontribusi mereka masing-masing. Suasana terasa akrab dan penuh canda. Sebagai cendera mata, saya memberikan piagam “Seuntai Kasih Ucapan Terima Kasih” dan selembar foto bersama, ditambah sebuah buku saya tentang UIN.
Momen itu saya sebut “hari penuh syukur”, hari berterima kasih kepada pihak-pihak yang memberi kebaikan. Syukur yang utama tentu kepada Tuhan, yang tiada henti memberikan rahmat dan kasih-Nya kepada saya dan keluarga, sehingga saya sampai ke titik akhir tugas ini. Selama delapan tahun itu, saya rutin masuk kantor, jika tidak ada tugas luar, dari pagi jam 07.30 dan pulang jam 17.30, atau lebih sore lagi. Sungguh beruntung, tak pernah ada sakit parah yang membuat saya absen. Tak pernah cuti pula, walau sehari. Tak syak lagi, ini semua adalah anugerah dan perlindungan-Nya.
Saya juga bersyukur telah dibantu sejumlah orang yang bekerja penuh dedikasi. Tanpa mereka, saya tak mungkin membawa UIN bergerak menuju cita-cita. Pembangunan Kampus 2 di Banjarbaru, dari pematangan lahan pada 2018 dan 2019, konstruksi pada 2020-2022, hingga terbangun 10 gedung dan satu kolam retensi, tak mungkin terwujud tanpa mereka. Begitu pula pembangunan di Kampus 1 Banjarmasin, mulai drainase, jalan, lahan parkir, pintu gerbang, gedung layanan terpadu, gedung FDIK, asrama PKU, taman, hingga pemasangan AC di perpustakaan, masjid, dan kelas-kelas.
Baca juga: Gagal Prestasi Tapi Sukses Membangun Fondasi
Baca juga: Jenazah Pria 55 Tahun di Kertak Hanyar Banjar Dievakuasi ke RSUD Ulin Banjarmasin
Tak kalah rumit tentu memperjuangkan mutu akademik. Pada 2017 lalu, kami baru beralih dari IAIN menjadi UIN. Akreditasi Institusi B, dan prodi yang A baru satu. Banyak pula prodi yang habis masa akreditasinya dan ada yang belum terakreditasi. Sistem akreditasi juga berubah, dari 7 standar menjadi 9 kriteria. Pada 2021, kami menghadapi Akreditasi Institusi dengan hasil Baik Sekali. Tiga tahun kemudian, pada 2024, kami berhasil meraih Unggul. Selain itu, sudah ada 16 prodi yang Unggul. Insya Allah akan menyusul beberapa prodi lagi ke depan, yang borangnya sudah dikirim.
Kami juga mendorong penelitian dan publikasi. Dana penelitian, meski sedikit, kami tingkatkan. Konferensi internasional makin digalakkan. Tata kelola penerbitan, baik jurnal atau buku (Antasari Press), ditingkatkan. Jurnal-jurnal kami lumayan bagus dan tidak berbayar. Ada satu yang terindeks Scopus, tiga Sinta-2, enam Sinta-3, dan sembilan Sinta-4. Antasari Press juga menerbitkan buku-buku hasil penelitian, terutama terkait “Islam Banjar”, termasuk Al-Qur’an terjemah ke bahasa Banjar. Terbaru adalah menerbitkan terjemahan buku Ensiklopedi Ulama Banjar ke bahasa Inggris dan Arab.
Saya memang tidak membuat tim “akselerasi guru besar” karena khawatir akan mencederai etika akademik secara sistemik. Namun, selain mendorong penelitian dan konferensi internasional, kami juga melaksanakan pelatihan menulis akademik internasional. Sebagai stimulus, pernah juga kami memberi insentif kepada dosen yang menulis di jurnal Scopus dan Sinta-2. Rata-rata setiap bulan kami menugaskan orang kepegawaian ke Jakarta untuk mengurus kepangkatan warga kampus. Tentu, semua prosedur dan syarat kami upayakan untuk ditaati, termasuk cek integritas karya akademik.
UIN Antasari juga mendapatkan reputasi internasional. Mahasiswa asing di kampus ini mencapai lebih dari 50 orang, dan mayoritas mendapatkan beasiswa dari negara asalnya. KKN dan PPL internasional sudah rutin dilaksanakan di Thailand, Malaysia, dan Arab Saudi. Tahun ini juga akan ada pelatihan untuk para dosen di Istanbul, Turki. Para dosen kami melanjutkan studi tidak hanya ke Timur Tengah, tetapi juga ke Eropa, Australia, dan Amerika. Saya sendiri dipercaya menjadi President of Asian Islamic Universities Association (AIUA) periode 2022-2024. Kami mengadakan konferensi dan workshop di Brunei, Thailand, dan Maladewa, dengan dukungan para petinggi negara itu.
Tak kalah penting adalah, UIN Antasari merupakan PTKIN pertama yang mendapatkan predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) sejak Desember 2017 dari Kemen-PANRB dan KPK. Kami berusaha menjaga tata kelola administrasi dan keuangan dengan baik. Kebijakan non-tunai diperketat sejak 2018. Peran Satuan Pengawasan Internal (SPI) ditingkatkan. Layanan kepada mahasiswa dan publik diawasi jangan sampai ada pungutan liar. Proyek-proyek didampingi BPKP dan SPI. Setiap penandatanganan kontrak proyek besar, saya kumpulkan semua pihak terkait, dan saya katakan, “Saya tidak minta apa-apa kecuali tiga: tepat waktu, tepat mutu, dan bebas dari korupsi”.
Selama hampir 8 tahun, WBK masih bisa kami pertahankan. Kami juga berusaha meningkatkan mutu pelayanan. Kami membuat aplikasi persuratan khusus untuk mahasiswa disebut Salam Antasari. Ada pula Aplikasi Deteksi Akhlak dan Bakat (ADAB) untuk mengetahui potensi bakat minat dan karakter mahasiswa. Ada aplikasi Siyaha untuk latihan bahasa asing. Selain itu, ada layanan karier yang serius mulai berbagai latihan keterampilan seperti desain grafis, MC dan kepribadian, kewirausahaan, strategi mendapatkan beasiswa dan studi lanjut, hingga kerja sama pelatihan dengan BLK dan BNSP. Bahkan kami memberi pendampingan karier alumni hingga tiga tahun setelah tamat.
Kami juga mengembangkan lembaga. Prodi-prodi baru S-1 kami buka seperti Teknik Informasi, Bisnis Digital, Ilmu Lingkungan, Akuntansi Syariah, Manajemen Bisnis Syariah, dan Ilmu Hadis. Ada pula Prodi S-2 Pendidikan Bahasa Inggris, dan Prodi S-3 Studi Islam (Interdisipliner). Selain itu, kami berhasil mengakreditasi Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH), dan mendirikan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Dua lembaga ini akan sangat membantu masyarakat untuk layanan hukum dan sertifikasi halal. Secara internal, ada pula pusat-pusat baru seperti pusat moderasi beragama, kajian halal, kajian Banjar dan Melayu, Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru.
Tentu masih banyak lagi yang dapat dicatat, tetapi tak cukup ruangnya di sini. Yang penting, apa yang baik harus dijaga dan ditingkatkan, dan apa yang kurang, ditambahkan. Bagaimanapun, masa depan UIN adalah masa depan anak cucu kita.
Jumat kemarin, saat tiba di rumah, saya terenyuh melihat sepotong kue di atas meja bertuliskan “Selamat Purna Jabatan, Abah”. Itu hadiah dari putri saya. Dua kali saya dilantik, tak ada satu pun keluarga saya yang mengucapkan selamat karena takut akan amanah berat ini. Kini semua sudah selesai dan kami lega. Semoga husnul khatimah! (*)
Sewindu telah berlalu. Tertalu banyak kerja yang telah dilaksanakan jika ingin dituliskan satu per satu. Pada sore Jumat lalu, 10 Oktober 2025, menandai akhir tugas saya, kami mengadakan “Momen Apresiasi Rektor kepada Jajaran Pimpinan di Akhir Masa Jabatan”. Pada momen itu, saya menyapa satu per satu pimpinan yang hadir, dan menyebutkan kontribusi mereka masing-masing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin7.jpg)