Fikrah
Syahrul Qur’an
Kita ketahui Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Umat Islam membaca Al-Qur’an lebih banyak dari bulan-bulan biasa
Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsauri mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ia berkata “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari.
Namun jika datang bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Bahkan ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap malam.”
Begitu pula cerita tentang Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i, salah satu ulama madzhab terkemuka. Disebutkan oleh muridnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat”.
Ada lagi seorang ulama pakar hadits dari negeri Syam yang bernama Ibnu ‘Asakir, anaknya yang bernama Al-Qasim menceritakan tentang ayahnya ““Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jamaah dan tilawah Al-Qur’an.
Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadan, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Lihat Siyar A’lam An-Nubala)
Jika para ulama bisa mengkhatamkan Al-Qur’an lebih banyak daripada bulan lainnya, bagaimanakah dengan kita hari ini? adakah kita betul-betul meluangkan waktu kita yang sebenarnya diberikan waktu yang sama 24 jam oleh Allah SWT seperti para ulama terdahulu? ataukah kita hanya membacanya disaat diperlukan saja? apakah ketika kematian saja? lebih ironi ada sebuah rumah muslim, ketika ada penghuni rumah itu yang meninggal, baru diketahui di rumah itu tidak ada kitab suci Al-Qur’an.
Wahai shaimin-shaimat janganlah engkau sia-siakan Ramadanmu berlalu begitu saja tanpa membaca Al-Qur’an sedikitpun. Ya Al-Qur’an tidak memberikan materi tapi ia memberikan keberkahan hidup. Keberkahan yang datang dari Nur Ilahi ke dalam hati setiap insan, sehingga hidupnya selalu dibanjiri dengan kebaikan-kebaikan. Wallahua’lam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ketua-MUI-Kalimantan-Selatan-KH-Husin-Naparin-jumat-28072023.jpg)