Opini Publik
Ketika Kebaikan Menjadi Konten
Video seseorang yang memberi bantuan kepada orang miskin, misalnya, seringkali menampilkan ekspresi haru atau tangis dari penerima
Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - TAK terasa saat ini umat Islam yang sedang mengerjakan puasa Ramadan sudah berada dipenghujung 10 hari terakhir. Ini artinya sudah 20 hari lebih umat Islam menjalani ibadah puasa Ramadan dan berbagai aktivitas ibadah serta banyak amal kebaikan yang mereka lakukan.
Di era media sosial, hampir semua hal dapat berubah menjadi konten: pengalaman pribadi, opini, hiburan, bahkan kebaikan. Berbagi makanan kepada orang miskin, memberi uang kepada pedagang kecil, atau membagikan paket sembako kepada kaum dhuafa kini sering direkam, diedit, lalu diunggah ke berbagai platform digital. Video-video semacam ini kerap viral dan menuai pujian dari warganet. Banyak yang menyebutnya inspiratif, mengharukan, bahkan memotivasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Namun di balik fenomena ini, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apa yang terjadi ketika kebaikan berubah menjadi konten?
Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari logika dasar media sosial. Platform digital bekerja dengan algoritma yang mengutamakan perhatian. Konten yang menyentuh emosi baik itu lucu, dramatis, atau mengharukan, cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi. Video seseorang yang memberi bantuan kepada orang miskin, misalnya, seringkali menampilkan ekspresi haru atau tangis dari penerima bantuan. Emosi tersebut menjadi daya tarik yang kuat bagi penonton. Akibatnya, kebaikan tidak hanya menjadi tindakan moral, tetapi juga menjadi narasi visual yang menarik untuk dikonsumsi publik.
Fenomena ini kemudian melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “ekonomi empati”. Dalam ekosistem digital, empati dapat dikonversi menjadi perhatian, perhatian dapat berubah menjadi popularitas, dan popularitas dapat membuka peluang ekonomi. Kreator konten yang sering menampilkan aksi-aksi sosial bisa mendapatkan jutaan penonton, ribuan pengikut baru, bahkan peluang kerja sama komersial. Dengan kata lain, kebaikan tidak lagi sekadar nilai moral, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dalam sistem media digital.
Namun di sinilah dilema muncul. Ketika kebaikan menjadi bagian dari produksi konten, batas antara ketulusan dan pencitraan menjadi kabur. Apakah seseorang berbagi karena ingin membantu, atau karena ingin membuat konten yang menarik? Pertanyaan ini mungkin tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana. Sebab dalam banyak kasus, niat manusia seringkali bercampur antara keinginan tulus dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Di tengah situasi ini, bulan Ramadan menawarkan perspektif yang penting. Dalam tradisi spiritual Islam, memberi bukan sekadar tindakan sosial, melainkan proses penyucian diri. Sedekah dipandang sebagai cara untuk membersihkan hati dari keserakahan dan menumbuhkan empati terhadap sesama. Karena itu, nilai keikhlasan selalu menjadi inti dari praktik memberi. Banyak ajaran klasik bahkan menekankan pentingnya sedekah yang dilakukan secara tersembunyi agar terhindar dari riya yaitu keinginan untuk dipuji atau dipamerkan.
Nilai ini terasa semakin relevan di tengah budaya digital yang sangat mengutamakan visibilitas. Media sosial mendorong setiap orang untuk tampil, berbagi, dan menunjukkan apa yang mereka lakukan. Dalam konteks tertentu, dorongan ini bisa memunculkan budaya “kebaikan yang dipertontonkan”. Tindakan memberi direkam dengan kamera, disertai musik menyentuh, lalu dipublikasikan agar mendapat perhatian luas.
Tentu tidak semua publikasi kebaikan harus dipandang negatif. Banyak gerakan sosial yang justru berhasil berkembang karena dukungan media digital. Kampanye donasi daring, misalnya, seringkali mengandalkan narasi visual agar masyarakat tergerak untuk membantu. Dalam situasi bencana atau krisis kemanusiaan, media sosial bahkan menjadi alat yang efektif untuk menggalang solidaritas publik.
Masalahnya bukan pada penggunaan teknologi, melainkan pada bagaimana kita memaknai tindakan memberi. Ketika fokus utama bergeser dari membantu orang lain menjadi membangun citra diri, di situlah makna kebaikan mulai berubah. Kebaikan tidak lagi menjadi tujuan, tetapi menjadi sarana untuk mendapatkan perhatian.
Selain itu, ada persoalan etika yang tidak kalah penting. Banyak konten kebaikan menampilkan wajah dan ekspresi penerima bantuan secara jelas. Orang-orang yang berada dalam kondisi rentan seperti pengemis, pedagang kecil, atau anak jalanan, seringkali direkam tanpa mempertimbangkan martabat mereka. Dalam beberapa kasus, penderitaan seseorang justru menjadi bagian dari cerita yang dikonsumsi publik.
Padahal, esensi memberi adalah memulihkan martabat manusia. Bantuan seharusnya membuat penerima merasa dihargai, bukan menjadi objek tontonan. Ketika kamera lebih fokus pada dramatisasi reaksi penerima bantuan daripada pada perubahan hidup mereka, kebaikan berisiko berubah menjadi sekadar hiburan emosional.
Di sinilah pentingnya membangun etika baru dalam praktik berbagi di era digital. Publikasi kebaikan seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian, menghormati privasi dan martabat penerima bantuan. Tidak semua momen kemanusiaan perlu direkam dan disebarkan. Terkadang, tindakan yang paling bermakna justru adalah yang tidak pernah diketahui publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ahmad-Syawqi-Pustakawan-UIN-Antasari-Banjarmasins.jpg)