Opini Publik
Ketika Kebaikan Menjadi Konten
Video seseorang yang memberi bantuan kepada orang miskin, misalnya, seringkali menampilkan ekspresi haru atau tangis dari penerima
Ramadan seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali makna memberi. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri, termasuk menahan keinginan untuk selalu mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam dunia yang dipenuhi angka “likes” dan “views”, kemampuan untuk melakukan sesuatu tanpa mencari sorotan menjadi bentuk kedewasaan moral yang semakin langka.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ia bisa memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga bisa mengubah kebaikan menjadi komoditas. Semua tergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Jika niat untuk membantu tetap menjadi pusat dari tindakan kita, maka media digital dapat menjadi sarana yang bermanfaat. Namun jika perhatian publik menjadi tujuan utama, kebaikan berisiko kehilangan maknanya.
Di tengah dunia yang semakin terobsesi dengan apa yang terlihat, kita mungkin perlu mengingat kembali satu hal sederhana: tidak semua kebaikan harus menjadi konten. Ada kebaikan yang justru menemukan nilainya ketika dilakukan dalam sunyi, tanpa kamera, tanpa sorotan, dan tanpa kebutuhan untuk diketahui siapa pun. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ahmad-Syawqi-Pustakawan-UIN-Antasari-Banjarmasins.jpg)