Opini Publik

Mengenang KH Husin Naparin

KH Husin Naparin adalah sosok ulama yang sungguh unik bagi generasinya dengan bobot yang tinggi dan tipe yang khas

Tayang:
Editor: Hari Widodo
ISTIMEWA
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin. 

Dengan modal yang sedemikian hebat, Husin Naparin ternyata memilih untuk pulang ke daerah, tidak ingin berkarier di Jakarta atau di luar negeri. Saya menduga, ada saja tawaran dan peluang yang menggiurkan secara duniawi, tetapi dia enggan mengambilnya. Dia memilih berkiprah di kampung sendiri sebagai tanggung jawab kepada masyarakatnya.

Ternyata pilihannya tepat. Kariernya cemerlang. Dia mula-mula dikenal di masyarakat sebagai penceramah agama yang berbakat: berisi dan pandai melontarkan humor.

Pada 1989, bersama dengan beberapa tokoh, dia mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah al-Jami di Banjarmasin. Setelah itu dia juga dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin (2001-2004), lalu Masjid Jami, Sungai Jingah (2007-2017), Ketua Umum MUI Kalsel (2016-2021) dan (2021-2025), dan sejak 2012 menjadi Ketua Umum Yayasan Pesantren Rakha, almamaternya.

Kalau melihat sederet jabatan di atas, mungkin ada yang menganggapnya biasa-biasa saja. Husin Naparin tetaplah beda. Dia bukan saja pandai berpidato, tetapi juga pandai menulis. Kemampuannya dalam menulis sudah terasah sejak di pesantren.

Dia suka membaca, termasuk karya-karya sastra yang menggugah jiwa. Karena itu, ketika dia menulis essai, pengaruh sastra itu terasa. Essainya lancar dan renyah. Pada tahun 2000 silam, atas usulnya, rubrik ‘gosip’ di BPost diganti dengan ’fikrah’ yang diisinya rutin tiap Jumat. Tak sedikit pembaca yang menjadi penggemar rubrik itu.

Berkat pengalaman dan wawasannya yang luas, Husin Naparin juga adalah sosok yang dapat beradaptasi dengan perubahan masyarakat. Ketika antrean haji makin panjang dan lama, dia adalah salah satu ulama yang paling awal aktif dalam layanan bimbingan umrah melalui biro perjalanan.  Berkat ilmu dan pengalaman yang dimilikinya, dia mampu membimbing jemaah umrah dengan sabar dan tekun, serta menulis buku-buku doa dan petunjuk ibadah sebagai pegangan.

Husin Naparin juga menjadi pendukung ekonomi syariah. Dia sempat menjadi Dewan Pengawas Syariah Bank Kalsel Syariah. Ketika Arie Ginanjar ramai melaksanakan pelatihan SQ, Husin Naparin juga mencoba membuat pelatihan yang mirip.

Dia juga sempat ingin maju dalam Pilkada Kabupaten Balangan pada 2010, meskipun akhirnya gagal menjadi calon. Saat saya menjabat Rektor UIN Antasari (2017-2025), ada yang mengusulkan agar dia diberi gelar doktor kehormatan. Namun, pemberian gelar itu tak bisa dilaksanakan karena waktu itu akreditasi UIN belum unggul.

Tentu saja, yang paling penting dari rekam jejak hidupnya adalah murid-muridnya, para jemaah yang mengikuti pengajiannya, dan mereka yang datang meminta nasihatnya dan doanya.

Bagi saya pribadi, KH Husin Naparin adalah sahabat dekat dan saudara angkat ayah saya. Dialah yang membacakan talqin saat ayah dikuburkan pada 6 Januari 2003 silam. Kini, Husin Naparin menyusulnya ke alam baka. Semoga mereka berdua berkumpul di sana dalam bahagia di surga. Amin! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved