Breaking News:

Jendela

Yang Gaib Itu Nyata

Inilah wujud dari percaya kepada yang gaib, yakni masa depan, dan hari ini kita bertanggungjawab akan baik-buruk masa depan itu

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM beberapa minggu terakhir, hampir tiap hari saya membaca kabar duka melalui akun facebook, terutama dari kawan-kawan yang tinggal di Jawa dan Madura. Korban Covid-19 berjatuhan satu per satu hingga petugas pemakaman kewalahan. Di mana-mana rumah sakit penuh, dan tak jarang orang yang positif dan perlu rawat inap tidak bisa mendapatkan kamar, meskipun sudah mendatangi beberapa rumah sakit. Saat vaksinasi sedang dilakukan, muncul lagi varian baru yang disebut Delta, yang sangat mudah menular. Menurut informasi, 90 persen yang positif di Jakarta terkena Delta ini.

Menyikapi krisis ini, pemerintah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk daerah Jawa-Bali mulai 1 sampai 20 Juli 2021. Pemerintah juga menargetkan 1 juta orang divaksin per hari di bulan Juli dan 2 juta di Agustus. Penerapan protokol kesehatan juga diperketat, yakni 5 M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas dan interaksi. Masyarakat dihimbau menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan dan minuman bergizi, berolahraga dan istirahat yang cukup.

Baca juga: Bahagia Bukan Tujuan

Baca juga: Kuasa, Nasib dan Takdir

Apakah usaha-usaha itu akan berhasil? Entahlah. Masalahnya tidak sederhana. Menyadarkan orang untuk menerapkan 5 M saja bukanlah perkara mudah. Masih banyak orang yang enggan memakai masker, entah karena tak peduli atau karena alasan lain. Menghindari kerumunan juga masih sering dilanggar. Kegiatan sosial seperti slametan, walimah hingga rapat, masih suka melanggar batas yang ditentukan. Apalagi memaksa orang tinggal di rumah saja. Siapa yang akan kasih makan keluarga? Mayoritas rakyat bukanlah ASN yang bergaji tiap bulan meskipun bekerja dari rumah.

Krisis kesehatan yang melahirkan krisis ekonomi itu akhirnya juga menimbulkan krisis psikologis. Seperti dilaporkan Kompas kemarin (11 Juli 2021), penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi UI terhadap 5.817 responden pada 26 Mei-2 Juni 2021 menunjukkan bahwa tingkat resiliense masyarakat kita rendah. Resiliensi adalah “kapasitas psikologis individu untuk bangkit kembali dari kesulitan, ketidakpastian, konflik ataupun kegagalan.” Terdapat 96,2 persen responden yang mengaku sulit berkonsentrasi dan 92,6 persen yang mengaku sulit menyelesaikan masalah.

Dalam keadaan krisis ini, manusia bisa terjerumus ke dua jenis jurang ekstrem. Ada yang putus asa, tanpa harapan. Hidup tanpa harapan adalah hampa, hanya menunda kekalahan belaka, sementara kekalahan itu cepat atau lambat pasti akan tiba. Ada lagi sikap ekstrem sebaliknya, yaitu orang yang mengambil keuntungan di balik penderitaan orang lain dengan cara mengorupsi dana Covid-19 atau mengambil keuntungan pribadi lainnya. Dia tak peduli kejahatannya itu merugikan orang lain. Dia serakah seolah akan hidup selamanya atau tak percaya akan bertanggungjawab di akhirat kelak.

Baca juga: Corona, Kentut dan Dosa

Mungkin demikianlah jebakan yang mengintai manusia ketika dia menghadapi ketidakpastian. Ketidakpastian itu adalah sesuatu yang gaib. Gaib artinya yang tak terlihat mata, atau yang tidak diketahui kita. Percaya kepada yang gaib seperti Tuhan, malaikat, iblis, akhirat, surga, neraka, adalah bagian dari pokok keimanan dalam Islam. Bagi kita yang awam, yang tidak pernah melihat langsung virus Covid-19 di laboratorium, boleh dikata virus itu juga gaib. Bagi kita yang belum pernah terkena virus ini, tetapi tetap menjaga protokol kesehatan, berarti kita percaya bahwa virus ‘gaib’ itu ada.

Biasanya, meskipun kita tak dapat melihatnya, yang gaib itu memiliki jejak-jejak atau tanda-tanda di alam nyata. Kita melihat sebatang pohon pisang tumbuh, artinya pisang itu hidup. Namun, kita tak bisa melihat wujud yang membuatnya hidup itu. Kita bisa melihat bahwa hewan itu memiliki kesadaran, tetapi kita tak melihat kesadaran itu. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki pikiran dan perasaan, tetapi kita tak bisa melihat pikiran dan perasaan itu. Kehidupan, kesadaran, perasaan dan pikiran memang gaib, tetapi gejala-gejala fisik yang dapat diindera menunjukkan semua itu ada.

Karena itu, masa depan yang tak jelas atau gaib, tidak boleh membuat kita kehilangan harapan. Masa depan, bagaimanapun, tidak terpisah dari masa kini, sedangkan masa kini berada di hadapan kita. Tugas kita adalah berusaha maksimal untuk mengerahkan masa kini menuju masa depan yang lebih baik. Tuhan sudah menciptakan untuk kita hukum alam dan hukum sosial, berupa pertalian sebab-akibat. Tugas kita adalah mengikuti hukum-hukum itu. Inilah wujud dari percaya kepada yang gaib, yakni masa depan, dan hari ini kita bertanggungjawab akan baik-buruk masa depan itu.

Ketika saatnya tiba, yang gaib itu akan menjadi nyata. Pada saat itu, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menyesal karena tak peduli atau putus asa. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved