Breaking News:

Jendela

Merdeka Lahir Batin

Manusia yang bebas adalah yang merdeka menentukan pilihan sikap dan tindakannya, sehingga dia wajib bertanggungjawab atas pilihannya

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setelah 17 Agustus 2020 lalu, tahun 2021 ini kita kembali merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia dalam suasana pandemi Covid-19. Demi mencegah penularan virus, upacara bendera dilaksanakan secara terbatas, tidak ramai-ramai seperti biasa. Tak ada pula lomba panjat pinang, sepak bola ibu-ibu atau bapak-bapak dengan memakai daster, lari dalam karung, memakan kerupuk, tarik tambang dan lain-lain. Virus Corona membuat kita tidak ‘merdeka’ merayakan kemerdekaan. Lantas, apa makna kemerdekaan bagi kita?

Merdeka artinya bebas, tidak terbelunggu, tidak terikat, dan berdiri sendiri. Lawan merdeka adalah budak atau hamba, yaitu orang yang hidupnya dikuasai oleh orang lain. Manusia diperjualbelikan laksana binatang atau barang. Manusia diperas oleh sesama manusia. Penjajahan adalah sejenis perbudakan. Penjajahan merupakan kekuasaan yang sewenang-wenang. Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan “adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikadilan.”

Kemerdekaan kita lahir dari kesadaran berbangsa yang unik, bukan dari kesamaan darah atau adat budaya, melainkan dari kesamaan nasib sebagai orang-orang yang terjajah. Nasionalisme kita bukanlah karena kesamaan asal-usul, melainkan karena alasan etis. Nasionalisme kita adalah anti-kolonialisme karena alasan etis, yaitu kolonialisme bertentangan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Musuh nasionalisme kita bukanlah orang Jepang atau Belanda, melainkan penindasan yang mereka lakukan. Nasionalisme etis tersebut ditopang oleh kesadaran keagamaan yang dalam, sehingga diakui bahwa kemerdekaan diperoleh “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”.

Baca Selanjutnya: Hijrah rasional dan spiritual

Baca Selanjutnya: Kematian adalah nasihat terbaik

Dilihat dari kerangka nasionalisme etis itu, maka perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan tanpa akhir. Merdeka dari kekuasaan asing hanyalah awal dari usaha mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Pertanyaan berat yang selalu menantang kita adalah: Apakah kekuasaan negara yang diambil alih oleh kita itu dapat menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan? Dapatkah negara “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tanah tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”?

Perjuangan kemerdekaan dalam kerangka nasionalisme etis itu berat karena menyangkut hakikat manusia itu sendiri. Manusia yang terbelenggu, yang tidak bebas, secara moral tidak bisa dibebani tanggungjawab. Sebaliknya, manusia yang bebas adalah yang merdeka menentukan pilihan sikap dan tindakannya, sehingga dia wajib bertanggungjawab atas pilihannya itu. Kemerdekaan dalam pengertian bebas menentukan pilihan moral ini akan melahirkan suatu kenyataan manusiawi yang kontradiktif: pilihan itu dapat sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Ini berarti, kemerdekaan politis menuntut kemerdekaan etis yang tanpa akhir.

Baca Selanjutnya: Covid dan taubat nasuha

Dengan demikian, makna kemerdekaan yang telah digariskan dalam Pembukaan UUD 1945 itu sangatlah dalam. Jika kita menggunakan sudut pandang spiritual, kemerdekaan etis tidak akan bisa terwujud tanpa membebaskan diri dari belenggu penjajahan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah keingingan-keinginan pribadi yang rendah dan seringkali jangka pendek. Nafsu kemaluan dan perut membuat orang ingin menikmati seks dan makanan sepuas-puasnya dan sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan hukum dan moral. Nafsu sukses membuat orang mengejar kekuasaan, kekayaan dan ketenaran dengan menghalalkan segala cara. Merdeka dari nafsu-nafsu ini bukanlah perkara mudah.

Karena manusia adalah makhluk yang diberi Tuhan kebebasan moral, dan kebebasan itu lebih terbuka dalam sebuah negara merdeka, maka pergumulan antara yang baik dan buruk, antara akal budi dan nafsu duniawi, tidak akan pernah berakhir. Yang jahat dan yang baik itu selalu ada. Yang culas dan jujur itu selalu ada. Yang bisa dan mungkin kita wujudkan bukanlah menghapus kejahatan, melainkan membuat kebaikan berkuasa atau lebih kuat daripada kejahatan. Inilah yang akan menentukan nasib kemerdekaan kita di masa depan. Jika yang dominan adalah orang-orang baik, jujur dan kompeten, maka bangsa ini akan berjaya. Jika sebaliknya, kita pasti akan terpuruk.

Alhasil, krisis Covid-19 adalah batu penguji kekuatan etis bangsa kita. Apakah kita sanggup berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan ataukah tidak? Apakah kita bersandar pada nilai-nilai ketuhanan ataukah tidak? Apakah kita merdeka secara etis dari belenggu nafsu angka murka ataukah tidak? Inilah makna kemerdekaan lahir-batin yang harus kita camkan! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved