Opini

Harta, Tahta, Tanpa Narkoba

Peredaran gelap narkoba semakin marak terjadi. Terakhir, Polres Banjarbaru berhasil menyita 3,7 kg Sabu dari tiga kawanan pelaku

Editor: Edi Nugroho
ISTIMEWA
Dosen UIN Antasari Banjarmasin, Muh. Fajaruddin Atsnan. 

Oleh : Muh. Fajaruddin Atsnan
Penulis 6 buku Ensiklopedi Narkoba dan Dosen UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID-Peredaran gelap narkoba semakin marak terjadi. Terakhir, Polres Banjarbaru berhasil menyita 3,7 kg Sabu dari tiga kawanan pelaku. Narkoba benar-benar menjadi public enemy kita semua saat ini, tidak hanya bagi BNN atau BNNP ataupun BNNK, tapi musuh bersama.

Semua lapisan umur disasar barang haram narkoba. Dari kalangan kaum semenjana dengan narkoba versi receh, hingga narkoba versi sultan yang dikonsumsi public figure kita. Lantas, apakah masih mungkin kita bisa lepas dari narkoba?

Ataukah selamanya musnahnya narkoba itu sebatas mitos dan angan-angan panjang saja? Yang jelas, usaha kita untuk terus memerangi kegiatan peredaran narkoba, serta penyalahgunaan narkoba harus kita upayakan. Mulai dari diri sendiri, merambah ke lingkungan sekitar terdekat, serta radius lebih luas lagi.

Semua sepakat bahwa selama narkoba masih eksis di Indonesia, maka selama itu pula ancaman kesehatan masyarakat, rusaknya karakter bangsa, serta kecenderungan lemahnya daya saing bangsa, sulit dihilangkan.

Baca juga: Sepertiga Lahan Pertanian Tambak Anyar Ulu Banjar Gagal Panen, Faktor Air tak Memadai

Baca juga: Langkah Dinas PUPR Kalsel Atasi Kekeringan Sumur-sumur di Kalsel, Juga Cari Solusi Air Perikanan

Berbagai upaya sekuat tenaga sudah dicoba, mulai dari membangun komitmen bersama dalam penyebarluasan informasi P4GN, kampanye Stop Narkoba ke dalam berbagai kegiatan, sampai ancaman hukuman mati bagi para bandar dan pengedar, tetapi tidak serta merta mampu menjadikan Indonesia bersih dan bebas narkoba.

Pendekatan Persuasif

Jika berbicara tentang narkoba itu berarti menyangkut aspek sensitifitas, terutama saat masuk ke permasalahan penyalahgunaannya.

Begitupun dengan usaha pihak-pihak yang peduli dan concern akan dampak buruk jika sudah kecanduan narkoba, seperti BNN, BNNP, aktivis anti narkoba yang tak kenal lelah melakukan segala daya upaya dalam usaha memberantas narkoba.

Menilik data dan fakta tentang masih tingginya kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba serta kecenderungan meningkatnya pengguna dan penyalahguna barang haram (baca: narkoba) memunculkan pertanyaan, cara dan metode seperti apa lagi yang sekiranya tokcer (ampuh) untuk membasmi narkoba?

Setidaknya ada empat strategi inovatif lawan narkoba, baik mencegah peredaran dan penyalahgunaannya maupun meminimalisir bahkan memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Pertama, memaksimalkan peran orang tua dalam keluarga sebagai pintu gerbang, apakah si anak terjaga untuk tidak mengkonsumsi atau justru terjerumus dalam lingkaran hitam narkoba.

Pihak yang memegang peran pertama dan utama dalam upaya pencegahan narkoba adalah orangtua dalam keluarga. Jika orang tua banyak masalah, maka anak rentan kena pengaruh sebagai pemakai narkoba.

Jadi, sebelum ke lingkungan pergaulan, bisa dikatakan bahwa cikal bakal pemakai narkoba bisa berawal dari orangtua, terutama orang tua yang lengah terhadap pendidikan anaknya, tidak punya waktu yang banyak untuk memberikan perhatikan dan kasih sayang, atau barang kali broken home, atau justru orang tua sendiri sebagai pengedar atau pengonsumsi.

Baca juga: Pemerintah Kabupaten Banjar Belum Punya Alat Pengukur Standar untuk Kualitas Udara

Asumsinya, jika pendidikan dan penanaman karakter mental yang kuat diberikan orangtua di keluarga, maka perlu kiranya melakukan kontrol bagaimana pergaulan anak di lingkungan, baik di sekolah maupun masyarakat. Tidak memungkiri, ancaman dan godaan untuk coba-coba barang haram, datangnya dari teman sepermainan atau iming-iming dari oknum yang berpikiran hanya untuk meraup untung.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved