Jendela

Momentum Peralihan

Tahun baru sesungguhnya tak lebih dari momentum peralihan, suatu penanda bahwa sedang terjadi transisi dari satu waktu ke waktu yang lain.

Editor: Hari Widodo
ISTIMEWA
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mujiburrahman. 

Oleh: Mujiburrahman Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUDAH seminggu kita memasuki tahun 2024, tetapi suasana tahun baru masih terasa. Tahun Baru Masehi merupakan penanggalan yang diikuti oleh hampir semua negara di dunia.

Sebenarnya ada beberapa tahun baru lain dalam sistem penanggalan yang berbeda seperti Tahun Baru Hijriyah, Tahun Baru Imlek dan Tahun Baru Saka. Namun, semua tahun baru ini tidak seramai dan “se-universal” Tahun Baru Masehi.

Mengapa demikian? Mungkin karena dominasi kebudayaan Barat berkat sains dan teknologi serta penjajahan Barat terhadap bangsa-bangsa lain. Negara-negara poskolonial, termasuk Indonesia, tentu sulit terlepas sepenuhnya dari pengaruh mantan tuannya itu.

Selain itu, kemajuan sains dan teknologi di Barat telah merambah ke berbagai penjuru dunia. Pada akhirnya, sains dan teknologi adalah milik bersama umat manusia. Kita semua menikmati hasil jerih payah pikiran dan tenaga manusia itu, dan juga sama-sama menerima akibat-akibat buruknya.

Meskipun perayaan Tahun Baru Masehi adalah kebudayaan Barat, bangsa-bangsa lain turut serta merayakannya, namun dengan berbagai penyesuaian dengan budaya masing-masing. Tidak semua orang ikut-ikutan ala Barat dalam merayakannya. Sedikit banyak terjadi perjumpaan dan sintesis dengan budaya lokal.

Perayaan Tahun Baru Masehi adalah salah satu wujud globalisasi budaya Barat tetapi bukan dalam arti ‘westernisasi’ total. Meminjam Roland Robertson, yang terjadi adalah ‘glokalisasi’, yakni perjumpaan yang global dan yang lokal sekaligus.

Karena itu, sebagian perayaan malam Tahun Baru Masehi dimulai dengan doa bersama terlebih dahulu. Ada pula yang mengadakan dzikir dan muhâsabah, yakni mengingat Allah dan introspeksi diri sebagai perlawanan terhadap budaya hura-hura.

Ada lagi yang memasak nasi dan membakar ikan bersama tetangga, sambil ngobrol dan menggosip sana-sini. Tak sedikit pula yang hanya tinggal di rumah sambil menonton televisi. Yang lain lagi malah tak peduli apapun yang tengah terjadi. Ia tidur seperti biasa. Esok pagi, dia bangun dan bekerja seperti biasa. Tak ada yang istimewa.

Jika kita cermati lebih jauh, tahun baru sesungguhnya tak lebih dari momentum peralihan, suatu penanda bahwa sedang terjadi transisi dari satu waktu ke waktu yang lain.

Sebenarnya waktu terus berjalan dan beralih, seringkali tanpa kita sadari. Detak jantung kita adalah peralihan dari satu momen ke momen lain. Rentang waktu berupa detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan juga adalah momentum peralihan.

Pertumbuhan diri kita dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia, adalah tahap peralihan pula. Pada akhirnya, kita pun akan beralih dari dunia ke akhirat.

Momentum peralihan itu adalah jeda, rehat sebentar, untuk menilai hidup yang telah kita lewati, dan merencanakan hidup yang akan kita jalani.

Kita tentu berharap, hidup kita ke depan menjadi lebih baik daripada yang telah kita lewati. Lebih baik dalam arti lebih sehat, lebih produktif, lebih bermanfaat bagi masyarakat, lebih banyak waktu untuk keluarga, dan lebih dekat kepada Allah.

Secara pribadi kita berharap akan menjadi orang yang lebih matang, sabar dan bijaksana. Pendek kata, kita ingin kualitas hidup kita meningkat, secara personal, sosial dan spiritual.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved