Opini
RA Kartini dan Literasi
SETELAH selesai menamatkan pendidikan dasar (Hollandsch-Inlandsche School) maka RA Kartini harus menjalani masa pingitan sesuai dengan tradisi
Oleh: Fachrur Rozy
Pemerhati Masalah Sosial
Kemasyarakatan
SETELAH selesai menamatkan pendidikan dasar (Hollandsch-Inlandsche School) maka RA Kartini harus menjalani masa pingitan sesuai dengan tradisi bangsawan Jawa masa itu.
Anak berumur 12 tahun yang masih bergairah menuntut ilmu di sekolah harus taat pada tradisi Jawa, terutama kalangan bangsawan, yakni anak perempuan diisolasi dari masyarakat luas dan hanya diperbolehkan berinteraksi dengan anggota keluarga terdekat.
Tujuannya untuk melindungi “kesucian” dan kehormatan mereka.
Keinginan Kartini untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya terhalang oleh tradisi pingitan. Ia sedih, namun ia terhibur dengan melahap bahan-bahan bacaan di perpustakaan keluarga di rumahnya.
Baca juga: Mengantisipasi Memanasnya Timteng
Baca juga: Geliat Ekstra Instruktur Senam Tanahlaut, Perempuan Ini Rela Kafenya Jadi Ajang Tempa Atlet
Ia melahap buku-buku bacaan yang bermutu tentang sosiologi dan kemasyarakatan. Abangnya Kartono yang sangat disayanginya mengirimkan beragam buku-buku bacaan.
Bila liburan Kartono yang lagi belajar di Hogere Burker School (HBS, setara SMA) di Semarang jika ke Jepara membawakan adiknya buku-buku bacaan. Via buku-buku bacaan yang dipasok oleh kakaknya ini, jendela dunia terbuka.
Terbuka wawasannya akan nasib bangsa dan kaum perempuan Jawa. Tumbuh berkembang jiwa patriotismenya untuk memperjuangkan nasib perempuan Jawa yang dibelenggu oleh adat tradisi yang menghambat kemajuan kaum perempuan.
Dari bacaan-bacaan tersebut ia melakukan studi banding posisi perempuan Jawa dengan posisi perempuan Eropa (terutama Belanda) dalam masyarakat.
RA Kartini adalah perempuan bangsawan Jawa yang tercerahkan melalui bacaan-bacaannya yang bermutu tentang sosial kemasyarakatan.
Kartini adalah sosok perempuan yang literate individual. Istilah ini merujuk pada seseorang yang memiliki kemampuan membaca, menulis, dan memahami teks dengan baik, serta berpikir kritis. Kemampuannya menulis terlihat dari surat-suratnya kepada teman-temannya di negeri Belanda.
Inti dari surat-surat Kartini adalah ungkapan pemikiran, aspirasi, dan perjuangan beliau dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebebasan.
Dalam surat-suratnya, Kartini menyampaikan keinginannya untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan laki-laki, sehingga dapat menjadi individu yang mandiri dan berkontribusi secara aktif dalam masyarakat.
Dia juga menyoroti permasalahan terkait pernikahan yang seringkali menghalangi perempuan untuk mengembangkan diri dan menjalani aspirasi pribadi mereka.
Selain itu, Kartini juga menggambarkan pandangan kritisnya terhadap kondisi masyarakat kolonial Hindia Belanda pada masanya, termasuk keterbelakangan perempuan dalam hal pendidikan dan peran yang terbatas dalam masyarakat.
| Tren Pelemahan Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham |
|
|---|
| Negara Sibuk Mengelap Air Mata, Lupa Menutup Keran |
|
|---|
| Refleksi Hukum Akhir Tahun 2025, Identik Tontonan Sirkus dan Badut |
|
|---|
| Gen Z dan Soft-Life Culture: Kenyamanan atau Pelarian dari Realita? |
|
|---|
| Korupsi Era Digital: Tantangan dan Solusi, Refleksi Hari Anti Korupsi Sedunia 2025 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Fachrur-Rozy-Pemerhati-Masalah-Sosial-Kemasyarakatan-shap.jpg)