Opini Publik
Upaya Percepatan Penurunan Stunting
Stunting mempunyai dampak yang sangat merugikan baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi produktivitas ekonomi
Ketiga, pengukuran untuk memantau efektivitas program dan mendapatkan data yang akurat. Pengukuran kadar hemoglobin (HB) dalam darah dilakukan untuk remaja putri yang mendapat TTD, sedangkan ibu hamil juga diperiksa kadar zat besi dan gizi, serta dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Selain itu juga perlu ditingkatkan program penanggulangan kemiskinan agar dapat mengurangi tingkat kemiskinan.
Lalu perlu adanya pendidikan gizi yang terintegrasi di sekolah-sekolah, puskesmas, dan melalui kampanye di media sosial atau media massa. Selain itu, perlu dipromosikan diversifikasi pangan untuk meningkatkan gizi anak-anak.
Perbaikan sanitasi dan kesehatan lingkungan juga harus menjadi bagian dari solusi stunting. Akses pelayanan kesehatan juga perlu ditingkatkan, terutama di daerah pedesaan, tertinggal, perbatasan, dan terpencil.
Rekomendasi Kebijakan
Ada beberapa rekomendasi strategi pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dapat dilakukan dalam percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
Pertama, dibuatnya gerakan massal desa bebas stunting (Gema Debest) serentak di seluruh Indonesia. Melalui gerakan massal ini, seluruh lintas sektor pada tingkat desa dan kecamatan dapat berperan aktif dalam upaya penurunan sunting.
Gerakan ini akan mengintegrasikan berbagai kegiatan intervensi stunting yang sudah ada seperti posyandu, posyandu remaja, pemberian PMT-lokal, pelatihan kader, dan lainnya.
Kedua, pemberdayaan kader kesehatan dan orang tua asuh anak stunting (OTA2S). Melalui gerakan ini, balita yang mengalami stunting mendapatkan pendampingan oleh orang tua asuh dan kader posyandu dengan pemberian makanan tambahan (PMT) selama 90 hari dan dievaluasi setiap bulan.
Ketiga, pembentukan Posyandu Remaja pada setiap Desa/Kelurahan.
Keempat, Gerakan Sadar Sanitasi Sehat. Pemerintah dapat melakukan gerakan untuk peningkatan kesadaran masyarakat akan sanitasi yang sehat yaitu cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, berhenti buang air besar sembarangan, pengelolaan air minum yang sehat dan pengelolaan limbah yang baik dan benar dalam rangka mencegah penyakit berbasis lingkungan khususnya pada anak yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Semoga upaya percepatan penurunan stunting bisa berhasil sesuai target. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Nurul-Ahdani-SKM-MKes-Mahasiswi-S3-Studi-Doktor-Pembangunan-ULM.jpg)