Fikrah

Insan Utama

DIA diberi nama “Muhammad” oleh kakeknya Abdul Muthallib, diharapkan menjadi “orang terpuji” disisi Allah SWT, baik di langit maupun di permukaan bumi

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin Lc MA, Ketua MUI Kalsel. 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIA diberi nama “Muhammad” oleh kakeknya Abdul Muthallib, diharapkan menjadi “orang terpuji” disisi Allah SWT, baik di langit maupun di sisi manusia di permukaan bumi.

Ia dilahirkan di Makkah 20 April 570/571 M, dalam keadaan yatim karena ayahnya meninggal ketika dirinya baru dua bulan dalam kandungan. 

Umur 5 bulan ia sudah pandai berjalan. Di umur 9 bulan ia sudah bisa berbicara dan umur 2 tahun ia sudah bisa berjalan sendiri.

Pada umur 6 tahun ibunya meninggal, sehingga ia diasuh oleh kakeknya. Sayang pada umur 9 tahun kakeknya itu meninggal sehingga ia diasuh pamannya Abu Thalib yang ia panggil ayah.

Abu Thalib mengajarnya berdagang dan menggembala kambing. Karena kejujurannya, ia dijuluki “al amin”, atau orang yang jujur terpercaya.

Pada suatu hari ia ikut memperbaiki Ka’bah bersama pamannya, Abbas. Ia mengangkat sebuah batu besar yang ditaruh di kain pakaiannya sehingga auratnya pun terbuka.

Tiba-tiba batu itu jatuh mengenai kakinya, sehingga ia jatuh pingsan. Dengan jatuhnya batu itu maka kain pakaiannya kembali menutupi tubuhnya yang mulia.

Kali yang lain, ia berkata kepada teman-temannya ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain.  Ia pun turun ke Makkah dan dimintanya kawannya menjagakan kambing ternaknya. Tetapi sesampainya di ujung Makkah, perhatiannya tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir di tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. 

Pada malam berikutnya datang lagi ia ke Makkah, dengan maksud yang sama. Terdengar olehnya irama musik indah, seolah turun dari langit.

Ia duduk mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi. Demikianlah, auratnya terpelihara dan ia terpelihara pula dari kemaksiatan.

Umur 12 tahun ia dibawa ke Syam dalam satu kafilah perdagangan. Demikianlah, ketika itu seorang rahib yang bernama “Bahira” ke pasar berbelanja.

 Ia tertarik pada seorang anak yang duduk di samping seorang tua, itulah Abu Thalib. Pada anak itu jelas terlihat tanda-tanda kenabian yang ia baca di dalam kitab Taurat.

Iapun bertanya: “anak siapa ini ?” 

Abu Thalib menjawab: “anak saya”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved