Fikrah
Insan Utama
DIA diberi nama “Muhammad” oleh kakeknya Abdul Muthallib, diharapkan menjadi “orang terpuji” disisi Allah SWT, baik di langit maupun di permukaan bumi
Mendengar jawaban itu Bahira sempat ragu karena anak yang akan menjadi nabi itu seorang yatim, sehingga ia balik bertanya : “Tuan, anak ini apakah anak kandung ataukah anak keponakan, ataukah anak angkat?”.
Abu Thalib menjawab: “Anak keponakan”
Mendengar jawaban itu Bahira menjadi yakin bahwa anak itulah yang bakal menjadi nabi di akhir zaman.
Ia nasehatkan agar anak itu jangan terlalu jauh dibawa memasuki daerah Syam, dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya.
Pada 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, dia diangkat menjadi rasul dengan turunnya wahyu pertama di Gua Hira :
“Iqra bismirabbik, bacalah dengan nama Tuhanmu”.
Selama 13 tahun lamanya ia berjuang di Makkah menegakkan tauhid yang kemudian mengharuskannya hijrah ke Yatsrib, kota yang kemudian dijuluki dengan nama Al Madinah Al Munawwarah, kota yang cemerlang; dimana ia berjuang di situ selama 10 tahun. Dia wafat tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H bertepatan 8 Juni 632 M.
Sudahkah kita mengenal insan utama ini? Dan sudahkah kita memperkenalkannya kepada generasi berikutnya, bahwa ia lah yang seharusnya menjadi idola dan panutan. Banyak di antara kita yang membaca riwayat hidupnya tetapi sebenarnya belum mengenalnya.
Padahal orang-orang Yahudi mengenal nabi akhir zaman ini seperti mengenal anak mereka sendiri. Berapa banyak di antara kita yang mendendangkan syair-syair pujian terhadapnya, tetapi belum menjadikannya sebagai “uswah hasanah”, panutan yang baik; usai begitu saja kah, renungkan! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)