FIKRAH

Jihad al-Usrah

JIHAD al-Usrah adalah perjuangan seorang muslim-mukmin menegakkan Islam di kalangan keluarga sendiri

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - JIHAD al-Usrah adalah perjuangan seorang muslim-mukmin menegakkan Islam di kalangan keluarga sendiri.

Dalam situasi kondisi kehidupan seperti sekarang ini, betapa banyaknya kendala yang harus kita hadapi, namun kita harus berusaha maksimal untuk tegaknya ajaran Islam di kalangan keluarga. Inilah dia jihad di dalam keluarga.

Kadang-kadang azan Magrib sudah berkumandang, namun sulit sekali menyuruh anak-anak kita untuk segera melaksanakan salat. Kenapa ? Karena game di handphone begitu menarik buat mereka sehingga tidak bisa ditinggalkan. Atau mungkin sekali hati kita sendiri juga tidak tergerak untuk menyuruhnya.

Kadang-kadang bila malam telah tiba, ada sebagian orang tua yang tidak peduli di mana putera-puterinya berada. Padahal ia ribut tidak alang kepalang bila ayam atau itik peliharaannya belum pulang ke kandangnya.

Banyak kontradiksi yang terjadi di kalangan rumah tangga muslim. Bila orang tua ditanya, “Anda mau punya anak yang bagaimana ?” Ia mesti menjawab: “Mau mempunyai anak muslim yang baik”.

Akan tetapi fakta berbicara lain, si orang tua itu sendiri tidak pernah berusaha menanamkan nilai-nilai keislaman. Sebagai contoh, seorang yang ingin berangkat ke luar rumah, diajarkan doa  “Astaudi’ukumullah allazi laa tadhi’u wa dai’uhu”.

Artinya, “Aku titipkan kalian kepada Allah, yang titipan kepada- Nya tidak akan tersia-sia”. Namun dewasa ini yang kita ajarkan kepada anak-anak kita ialah kata “daa-daah”, bahkan salam pun terabaikan.

Bila kita tanya bocah–bocah kecil, “Kalau kau sudah besar, mau jadi apa ?” Tidak sedikit yang menjawab: “Aku mau jadi Superman.”

Ketika ditanya lagi, “Mengapa ?” mereka menjawab: “Karena Superman pembela kebenaran” , atau jawabannya: “Aku ingin menjadi Hie Man, karena ia penumpas kejahatan dan keonaran”.

Otak mereka telah tercemar dengan tokoh-tokoh fiktif. Mengapa demikian? Jawabannya karena kita sendiri yang tidak mengajarkan mereka tentang pahlawan bangsa pembela kebenaran dan penumpas kebatilan seperti pahlawan Pangeran Antasari, Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol, dan lainnya.

Bahkan syuhada muslim zaman dahulu. Prof. DR. Daldiri Mengoendiwirirjo, guru besar Fakultas Kehutanan UNAIR dan pemerhati remaja mengatakan, “Realitas remaja Indonesia telah terseret arus modernitas yang berwatak western”.

Mengapa hal ini bisa terjadi ? Jawabannya karena kita tidak menanamkan kalimah-kalimah thayyibah di jiwa mereka. Kita tidak menanamkan patriotisme muslim dalam kehidupan mereka.

Kita kalah gesit dengan para pengabdi dunia yang hanya mencari keuntungan materi dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan kita.

Perilaku orang tua adalah cermin bagi anak-anak. Suatu kejadian, Pengadilan Negeri di Saudi Arabia menjatuhkan vonis “potong tangan” bagi seorang pencuri laki-laki yang terbukti melakukan pencurian besar-besaran.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved