Opini Publik

Resolusi Pendidikan 2025, Pendidikan Mulai Menemukan Jalannya

PERGANTIAN tahun sebentar lagi. Salah satu sektor yang digadang-gadang mampu lebih baik dan terarah di tahun 2025 adalah sektor pendidikan

Editor: Hari Widodo
Dok BPost Cetak
Muh. Fajaruddin Atsnan, Dosen UIN Antasari Banjarmasin. 

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan Dosen UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERGANTIAN tahun sebentar lagi. Salah satu sektor yang digadang-gadang mampu lebih baik dan terarah di tahun 2025 adalah sektor pendidikan.

Tak hanya dikarenakan pergantian estafet menteri, tetapi juga gagasannya yang diharapkan mampu mentransformasi pendidikan ke sistem yang lebih jelas dan mampu mengembalikan khittah dari diselenggarakannya pendidikan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan menjadi ikhtiar untuk mewujudkan amanah pembukaan UUD 1945, ”mencerdaskan kehidupan bangsa”. Melalui pendidikan, generasi penerus, digembleng menjadi insan bertakwa, intelek, berakhlak mulia, serta berbudi pekerti luhur.

Dengan kata lain cerdas secara IQ, EQ, dan SQ. Sayangnya, dalam beberapa edisi terakhir, pendidikan seperti lepas kendali, program bertajuk Merdeka Belajar justru membawa pendidik dan peserta didik dalam kubang ketidakjelasan arah pendidikan.

Namun, secercah harapan baru muncul, manakala program-program yang dirancang Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, semacam pintu gerbang bagi pendidikan untuk menemukan jalannya, yakni menjadi jalan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jalankan Program Prioritas

Setidaknya ada keseriusan di tingkat pendidikan dasar dan menengah untuk memperbaiki problematika pendidikan. Hal itu nampak dari Visi Kementerian Dasar dan Menengah yakni menyediakan pendidikan bermutu untuk semua, sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Visi tersebut diturunkan dalam enam misi sebagai program prioritas.

Pertama, penguatan pendidikan karakter. Meliputi pelatihan bimbingan konseling dan pendidikan nilai untuk guru, peningkatan kompetensi guru BK dan agama, pengangkatan guru BK, penanaman tujuh kebiasaan anak Indonesia, dan penyediaan makan siang bergizi.

Kembalinya si program “hilang” Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), diharapkan kembali mampu membangun pondasi moral, etika, sopan santun, dan juga akhlak dari anak-anak kita, melalui keteladanan guru dan tentunya orang tua.

Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengatasi deadlock masalah moralitas dan karakter anak-anak yang dianggap semakin memprihatinkan. Yang ditandai dengan meningkatnya perilaku negatif, seperti kekerasan, bulliying, ketidakpedulian terhadap nilai-nilai sosial, dan serta kurangnya rasa tanggung jawab.

Sedangkan, gerakan tujuh kebiasaan anak hebat Indonesia yang baru saja di-launching semata-mata untuk membangun kebiasaan lewat pembiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

 Tujuh kebiasaan sederhana, tetapi manfaatnya akan dahsyat dirasakan jika betul-betul gerakan ini didukung penuh oleh orang tua, guru, dan juga masyarakat.

Kedua, wajib belajar 13 tahun  dan pemerataan kesempatan pendidikan. Ini termasuk  afirmasi pendidikan oleh masyarakat seperti rumah belajar, pendidikan jarak jauh, dan PAUD, serta fasilitasi relawan mengajar.

Wajib belajar 13 tahun dan pemerataan kesempatan pendidikan merupakan langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Dengan melibatkan berbagai inisiatif, seperti pendidikan afirmasi oleh masyarakat (rumah belajar), pendidikan jarak jauh, PAUD, dan fasilitasi relawan mengajar, diharapkan dapat menciptakan peluang yang lebih besar bagi anak-anak di seluruh Indonesia untuk memperoleh pendidikan berkualitas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved