Fikrah

Marhaban Ya Ramadhan

Bulan Ramadan kini tiba kembali. Marhaban (selamat datang) ya Ramadan. Allah SWT dan RasulNya mengistimewakan bulan Ramadan daripada bulan-bulan lain

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bulan Ramadan kini tiba kembali. Marhaban (selamat datang) ya Ramadan. Allah SWT dan RasulNya mengistimewakan bulan Ramadan daripada bulan-bulan lainnya.

 Hal ini antara lain tergambar di dalam surah Al Baqarah 185; Allah SWT secara khusus menyebutnya dengan ungkapan : “Syahru Ramadhan…”

Ketika Allah swt menyebut nama bulan Ramadan pada ayat tersebut, di situ ditimpali dengan tiga persoalan yang tidak terpisahkan bahwa Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, Ramadan adalah bulan puasa dan Ramadan adalah bulan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Pendekatan diri kepada Allah swt diisyaratkan melalui sebuah ayat yang di selipkan di tengah-tengah pembicaraan tentang puasa bahwa :         “… Aku (kata Allah swt) adalah dekat”.

Terpilihnya bulan Ramadan sebagai bulan puasa adalah karena di dalamnya diturunkan awal wahyu Ilahi (QS. Al Alaq 1-5). Turunnya Al-Qur’an merupakan nikmat besar bagi kemanusiaan dan kehidupan, karenanya sudah sepantasnya manusia bersyukur akan nikmat besar tersebut. Kesyukuran ini direaksikan dengan berpuasa. (Syaltut, Islam, Aqidah dan Syari’ah, hal 13 ).

Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat hubungannya dengan Tuhan. Perasaan kedekatan seseorang kepada Tuhan teruji dengan ibadah puasa karena hanya Allah SWT yang mampu menilai ibadah puasa seseorang itu.

Rasulullah SAW memperingatkan: “Hati-hatilah kalian dengan bulan Ramadhan  (bulannya Allah swt); daripada meremehkan dan menyia-nyiakannya. Sungguh Allah swt telah menyediakan sebelas bulan buat kalian bersenang-senang. Awaslah kalian terhadap bulan Ramadhan”.

Nabi SAW selanjutnya menerangkan: “Di bulan Ramadan, kepada umatku diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada Nabi sebelumku, yaitu  : 1). Bila malam pertama bulan Ramadan tiba, Allah SWT pun memandang umatku, dan siapa yang dipandang-Nya tidak akan diazab selamanya; 2). Bau mulut orang yang berpuasa diwaktu sore lebih harum bagi Allah swt daripada bau “al-misk” (sejenis minyak wangi terbaik pada masanya); 3). Para malaikat memohon ampun bagi umatku setiap malam dan siang; 4). Allah swt memerintahkan sorga agar  berhias diri untuk menyambut umatku sehingga mereka bisa beristirahat daripada problematika kehidupan dunia; 5). Bila malam akhir Ramadan tiba, Allah ampunkan dosa semua mereka”.

Seorang sahabat bertanya : “Wahai Rasul, itukah dia yang dinamakan malam al Qadr?” Nabi menyahut : “Bukan, bukankah bila para karyawan telah selesai bekerja, kepada mereka diberikan upah? (HR. Al Baihaqi)

Puasa sebagai ibadah khusus yang dilaksanakan di bulan Ramadan termasuk rukun Islam yang kelima. Puasa sebagaimana ibadah lainnya bertujuan untuk mencapai derajat taqwa.

Syekh Yusuf al Qardhawi mensinyalir bahwa ada beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap bulan Ramadan. Mereka menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan konsumtif; mereka bermalas-malasan dari bekerja dengan alasan untuk beribadah, sehingga tidak lagi produktif, dan mereka menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai sarana untuk meraih pahala, bukan untuk menggapai “huda”.

Nampaknya, umat Islam melaksanakan ibadah puasa terfokus pada ritual saja. Mereka lupa akan pesan moral yang terkandung pada ibadah puasa yang banyak Allah SWT sampaikan melalui ibadah puasa. Sebagai contoh, Nabi saw menemukan seorang wanita yang sedang memaki budaknya. Nabi saw menyuruh sahabatnya menyediakan makanan untuk wanita tersebut. Wanita itu menolak suguhan Nabi saw dengan alasan sedang puasa. Nabi SAW pun menjawab : “kau hanya lapar (bukan berpuasa)”.

Jabir bin Abdillah bin ‘Amr al-Anshari ra, salah seorang sahabat Nabi menyatakan: “Apabila engkau berpuasa, maka puasakan juga pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu, dari hal-hal yang haram. Jangan menyakiti tetangga. Jangan melukai perasaan orang lain. Jadilah orang yang lemah lembut dan tenang pada saat engkau berpuasa. Jangan jadikan saat-saat puasamu dan saat-saat kamu tidak puasa menjadi dua hal yang tidak ada bedanya.”

Akankah setiap tahun perilaku kita umat Islam terulang kembali, puasa ritual tanpa moral? Janganlah kiranya hari-hari kita berpuasa seperti halnya kita tidak berpuasa.(*)

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved