Tajuk

Meniru Umar Bin Abdul Aziz

PARA kepala daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang telah dilantik Presiden Prabowo menjalani prosesi serah terima jabatan

Editor: Edi Nugroho
Wabup Tabalong
RETRET-Ilustrasi: Kenakan seragam loreng, Wabup Tabalong Habib Taufan mulai bergabung retret di Akmil Magelang, Kamis (27_2_2025). 

PARA kepala daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang telah dilantik Presiden Prabowo menjalani prosesi serah terima jabatan atau sertijab. Mereka telah menerima Surat Keputusan (SK) dan Memori Jabatan Kemendagri.

Penyerahannya dilakukan secara langsung oleh Gubernur Kalsel, Muhidin, di Mahligai Pancasila Banjarmasin, Rabu (5/3). Hadirnya para pemimpin ini menjadi harapan baru bagi masyarakat Kalsel.

Amanat dan tanggung jawab memimpin daerahnya otomatis beralih ke tangan mereka. Para kepala daerah yang baru ini harus menyadari beratnya tanggung jawab jadi pemimpin itu.

Saking beratnya tanggung jawab menjadi pemimpin itu, masa kekhilafahan, banyak yang takut untuk menjadi seorang kepala negara, sampai harus ditunjuk langsung oleh kaum muslimin.

Baca juga: Pemain Muda Barito Putera Antusias Jalani TC Timnas U-17 ke Piala Asia

Baca juga: BPOM Banjarmasin Periksa Makanan dan Minuman di Pasar Wadai, Tak Ditemukan Kandungan Kimia Terlarang

Hal ini terjadi pada satu pemimpin yang sangat fenomenal bagi umat Islam yakni Umar bin Abdul Aziz yang diangkat menjadi Khalifah pada masa Bani Umayyah. Cicit Umar Bin Khattab itu sampai menangis terisak-isak sambil memasukkan kepalanya ke dalam dua lututnya diserahi amanah itu.

Kalimat “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiun” pun meluncur dari mulutnya. Bahkan, dia berujar “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”

Hasilnya, kepemimpinannya yang adil dan bijaksana. Pada masa kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz rakyat hidup secara sejahtera dan damai baik orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani. Sampai-sampai pada masa itu negara bingung mencari orang yang berhak menerima zakat, karena tidak ada lagi orang miskin.

Umar Bin Abdul Azis juga sangat anti menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Bahkan, saat ada urusan keluarga, lampu dimatikan karena termasuk fasilitas negara.

Ketika ada kerabatnya yang datang ke rumah dinas, dia bertanya terkait urusannya. Jika tidak berkaitan dengan urusan negara, dia mematikan lampu penerangannya.

Hal ini setidaknya menjadi teladan bagi pimpinan daerah sekarang mendapat amanah dari rakyat. Tak mungkin menirunya 100 persen, tapi setidaknya mengikuti kejujuran dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah untuk kesejahteraan rakyat. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved