Fikrah

Brain Rot

ada satu fenomena yang banyak menimpa generasi kita hari ini, adalah apa yang dikenal dengan istilah brain rot atau pembusukan otak

Tayang:
Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID- JIKA dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan dan perkembangan teknologi besar-besaran, hingga informasi digital tak terbendung betapa banyaknya masuk ke semua kalangan melalui apa yang disebut smartphone atau handphone, dari yang muda hingga dewasa. Namun di balik itu semua, ada satu fenomena yang banyak menimpa generasi kita hari ini, adalah apa yang dikenal dengan istilah brain rot atau pembusukan otak.

Istilah ini menggambarkan kondisi di mana otak seseorang mengalami penurunan fungsi akibat kebiasaan mengonsumsi konten digital yang tidak bermutu, berlebihan, dan instan. 

Otak menjadi terjebak dalam kebiasaan negatif yang mengurangi kemampuannya untuk berpikir jernih, berkonsentrasi, dan memproses informasi secara efektif.

Sebuah survei yang dilakukan Kompas pada April 2025 mencatat, 81,8 persen pakar sepakat bahwa istilah brain rot tepat menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital singkat yang cepat dan dangkal secara berlebihan.

Konten yang menumpuk dan hadir dalam tempo kilat itu bekerja layaknya candu. Ia memicu dopamin, zat kimia otak yang menghadirkan rasa senang instan, namun dalam dosis berlebih justru bisa menjebak otak pada lingkaran adiksi yaitu perilaku menggunakan atau melakukan sesuatu secara terus-menerus, hingga sulit untuk berhenti atau dikendalikan.

Konsumsi konten instan seperti video pendek dapat menjadikan otak bekerja secara pasif, mengurangi kemampuan untuk beradaptasi dan belajar hal baru. Maka tak heran di era sekarang selalu merasa “ada yang kurang” jika sehari tak membuka linimasa atau mengunggah status.

Belum lagi akibat dari itu banyak orang yang kemampuan nalarnya sangat dangkal, mudah frustasi tak mampu mencari solusi, tak mampu berfikir logis dan beragumen dengan baik, lebih senang menyendiri dengan smartphonenya daripada bergaul dengan teman kerabat tetangga secara langsung, bahkan ada yang menghabiskan waktu dengan gamenya.

Kemudian muncul juga kebiasaan serba dilayani yang melahirkan efek lanjutan yaitu tak peka dengan situasi. Simpati dan empati tergerus seakan barang langka, mudah tersinggung marah dan cepat meluapkan emosi dengan tak terkendali.  

Inilah fakta yang terjadi di sekitar kita, dampak dari informasi digital yang tak terkendali menjadikan tak peduli apapun bagaimanapun dimanapun, bahkan di masjid sekalipun ketika hendak takbir masih sempat menjenguk handphonenya.

Lantas bagaimana ingin mencapai derajat khusyuk dalam salat. Sungguh ironi, banyak yang terjebak dalam scroll tanpa ujung, menonton video pendek yang menghabiskan waktu, hingga lupa bahwa setiap detik yang terbuang adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Waktu yang seharusnya diisi dengan hal bermanfaat, justru terkuras tanpa henti, menonton tanpa tujuan, atau bermain tanpa batas.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari). Para ulama menjelaskan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua modal utama untuk mengumpulkan bekal akhirat.

Seseorang mungkin saja sehat, tetapi tidak memiliki waktu luang, atau ada yang memiliki waktu luang, tetapi tidak disertai kesehatan. Banyak yang terjebak bahwa waktu luang adalah kesempatan untuk bersantai tanpa batas, padahal ia adalah ladang investasi akhirat.

Sebenarnya pengganti terbaik adalah aktivitas yang menyehatkan pikiran dan menenangkan jiwa: membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved