Fikrah
Waktu Kada Karasaan
Banyak orang di akhirat nanti yang merasa rugi dan menyesal karena waktu di dunia tidak digunakan sebaik mungkin untuk beramal
KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID- NISFU Syakban telah berlalu, tak terasa umat Islam seluruh dunia akan memasuki bulan Ramadan bahkan hanya tinggal menghitung hari.
Orang Banjar sering berujar “nah kada karasaan ramadhan pulang” (tak terasa akan ramadhan lagi). Entah karena kesibukan atau waktu yang kurang berkah, perjalanan hidup serasa semakin cepat, semua seakan tak terasa.
Tiba-tiba saja bertambah tua, tiba-tiba saja menemui bulan Rajab, tiba-tiba saja berada di bulan Syakban, dan tiba-tiba lagi bulan suci Ramadan.
Sejatinya, tidak ada istilah “tiba-tiba”, karena waktu berjalan seperti lazimnya, kecuali timbul dari perasaan pribadi lantaran sikap abai alias tidak peduli.
Waktu merupakan hal paling berharga. Sekali berlalu, waktu tidak akan pernah kembali dan terulang. Waktu tidak dapat dibeli. 24 jam dalam sehari, 60 menit dalam satu jam, dan seterusnya tidak dapat berubah, bertambah atau berkurang.
Kesibukan dunia telah banyak melalaikan manusia sehingga tidak sadar bahwa waktu terus berjalan. Orang baru tersadar bahwa ia telah menghabiskan waktu dan umur yang panjang manakala kulit mulai mengendur, gigi mulai tanggal, warna putih mulai tampak di rambutnya, dan berbagai keluhan dan penyakit mulai menghampirinya.
Kerap kali banyak yang menyepelekan waktu begitu saja. setelah berlalu baru menyesalinya. Misalnya saja, sering mengatakan, “Nanti-nanti”. Penanti-nantian ini tentu sebetulnya dapat merugikan, dimana kesempatan tidak akan datang dua kali.
Sekalipun ada kesempatan serupa, tentu memiliki nilai yang berbeda dengan kesempatan pertama.
Maka, sedemikian pentingnya waktu ini sampai-sampai Allah SWT bersumpah dengan nama-nama waktu dalam surah al-‘Ashr. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.
Imam asy-Syafi’i berkata, “Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka”.
Pada hakikatnya waktu merupakan sebuah nikmat yang besar yang dilimpahkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.
Keberadaannya yang tidak tampak dalam pandangan mata, membuat manusia sering abai dan lalai dibuatnya.
Maka dari itu, sebagai seorang hamba-Nya adalah memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bukanlah hal mudah memang untuk melakukannya, faktanya kebanyakan mungkin belum bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan baik.
Mengapa dalam kehidupan manusia sangat penting untuk menghargai waktu? Karena waktu tak terasa dan bisa menipu. Berbicara mengenai waktu maka tak bisa lepas dari umur manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)